Pesantren Miliki Potensi Strategis Dukung Ekonomi Nasional

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Indonesia (Dekranas), Wury Ma’ruf Amin, mengatakan, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tidak hanya mencakup pendidikan agama dan moralitas. Namun, juga pendidikan formal dan kewirausahaan. Juga berperan strategis dalam mendukung pertumbuhan industri kerajinan di Indonesia.

“Sebagai agen pembangunan, peran pesantren sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di daerah, sehingga menjadi sarana yang penting dalam pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Wury, dalam webinar bertajuk ‘Edukasi dan Literasi Keuangan Syariah’, pada Jumat (7/8/2020).

Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag), tercatat 28.194 pondok pesantren di seluruh wilayah Indonesia, dengan jumlah santri sebanyak 4,290,626 orang.

Dengan jumlah pesantren dan santri yang cukup besar itu, menurutnya pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional.

“Salah satunya melalui penumbuhan kewirausahaan baru di lingkungan pondok pesantren, dengan berbagai komoditi termasuk produk kerajinan,” ungkap Wury.

Apalagi, tambah dia, pemerintah telah mengimplementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) melalui Peraturan Presiden nomor 82/2016, dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, percepatan penanggulangan kemiskinan melalui pengurangan kesenjangan antarindividu dan daerah.

Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2019, juga menunjukkan Indeks Keuangan Inklusif sebesar 76.19 persen, sehingga target 2019 sejumlah 75 persen sebagaimana tercantum pada Perpres 82/2016 telah tercapai.

Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan Bank BNI Syariah, Iwan Abdi, dalam webinar bertajuk ‘Edukasi dan Literasi Keuangan Syariah’, pada Jumat (7/8/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Namun demikian, indeks inklusi keuangan syariah menurun dari 11,1 persen pada 2016 menjadi 9,1 persen pada 2019.

Populasi penduduk muslim di Indonesia yang mencapai 87,18 persen dari total penduduk sejumlah 255 juta, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Indonesia dengan populasi muslim terbesar, sangat berpotensi dalam meningkatkan indeks inklusi keuangan syariah,” imbuhnya.

Potensi pondok pesantren yang berjumlah 28.194 di seluruh wilayah Indonesia, disertai besarnya jumlah penduduk muslim, merupakan peluang untuk meningkatan inklusi keuangan syariah melalui implementasi ekosistem dimaksud, melalui edukasi dan literasi keuangan syariah.

Selain itu, juga pembiayaan syariah bagi Usaha Mikro Kecil (UMK) sekitar pondok pesantren dan UMK binaan pondok pesantren. Serta pembukaan rekening syariah, program tabungan emas, dan kemandirian ekonomi pesantren terintegrasi keuangan syariah mendukung halal value chain.

Menurutnya, edukasi dan literasi keuangan syariah adalah bagian dari implementasi ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasiskan pondok pesantren.

“Diharapkan, ini dapat meningkatkan inklusi dan literasi keuangan syariah, dan mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional menghadapi pandemi Covid-19,” tegasnya.

Dekranas juga mendukung UMK perajin di Indonesia, untuk bangkit menghadapi pandemi Covid-19 ini.

“Kami mendukung UMK dengan senantiasa bersinergi bersama pemerintah dan lembaga keuangan syariah termasuk bank syariah,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, menambahkan, implementasi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah bagi pondok pesantren dan UMK sangat penting.

“Pesantren memiliki potensi dan ruang yang begitu besar dalam meningkatkan pangsa pasar syariah di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, implementasi ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasiskan pondok pesantren, dilaksanakan sebagai salah satu wujud nyata adaptasi kebiasaan baru menghadapi pandemi Covid-19. Seperti implementasi QRIS dan kartu santri digital.

“Ke depan, kita akan uji coba transaksi keuangan santri/santriwati pondok pesantren secara biometrik, bekerja sama dengan layanan syariah,” tandasnya.

Pada kesempatan ini, Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan Bank BNI Syariah, Iwan Abdi, mengatakan, pihanya berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan UMKM di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, dengan menyalurkan pembiayaan, baik secara langsung dengan produk pembiayaan mikro syariah maupun dengan kemitraan melalui skema linkage dengan mitra terpilih.

Dan, melalui Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Nuansa Umat Jawa Timur, pada 2020 BNI Syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp25 miliar kepada lebih dari 100 UMKM.

“Termasuk di antaranya UMKM Wanita di lingkungan pesantren dengan usaha kerajinan tangan,” ujar Iwan.

Iwan berharap, sinergi antarstakeholders yang koordinatif dalam mengimplementasikan ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasiskan pondok pesantren, dapat terus  berkembang.

Lihat juga...