Petani di Lamsel Mulai Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Memasuki masa tanam musim kemarau atau gadu, sejumlah petani di Lampung Selatan mulai kesulitan air. Sejumlah petani pemilik lahan pertanian di dekat sungai Way Pisang, Way Asahan, Way Jejur, Ham Kawokan, Way Kuripan, dan sungai lain memilih menggunakan mesin pompa.

Suhar, petani di Desa Pasuruan, menggunakan pompa untuk mengairi sawah. Menurutnya, musim kemarau belum memasuki masa puncak, namun debit air mulai menyusut. Pemanfaatan sungai kecil yang bisa dijangkau dengan memakai selang menjadi pilihan. Bermodalkan mesin pompa air atau alkon, ia cukup mengeluarkan biaya Rp100.000 per hari untuk mengairi hamparan sawah seluas setengah hektare.

Selang khusus yang disalurkan ke sejumlah petak sawah, berfungsi mendistribusikan air dari sungai. Saat awal tanam, ia menyebut pasokan air masih cukup lancar. Namun memasuki padi usia 60 hari setelah tanam (HST), pasokan air mulai berkurang. Solusi mesin pompa menjadi pilihan karena lebih praktis dan mudah dipindahkan.

Siti, petani sayuran di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, melakukan proses penyiraman dengan sistem kocor, Selasa (4/8/2020). -Foto: Henk Widi

“Kami ingin membuat sumur bor, namun biayanya mahal dan perkumpulan petani pemakai air mendapat bantuan berupa saluran irigasi, harapan kami fasilitas sumur bor bisa diberikan untuk petani di wilayah ini,” terang Suhar, saat ditemui Cendana News, Selasa (4/8/2020).

Efesiensi pemakaian air, menurut Suhar dilakukan dengan cara mengalirkan air ke petak sawah tanpa perendaman (ngelep). Pemilihan varietas padi yang memiliki toleransi tinggi pada kekeringan, juga menjadi solusi efesiensi penggunaan air. Meski berada tidak jauh dari sungai Way Asahan, ia menyebut lokasi yang lebih tinggi menyulitkan distribusi air untuk lahan pertanian.

Suhaini, petani lain di Desa Sukabaru, selama ini memanfaatkan irigasi Way Jejur. Namun, musim kemarau berimbas pasokan air berkurang. Sejumlah saluran irigasi yang dibangun secara permanen tidak mendapat aliran air. Lahan sawah yang semula digunakan untuk menanam padi, menurutnya sementara digunakan untuk menanam cabai.

“Penggunaan air lebih sedikit menjadi alternatif, sehingga masa tanam tahun ini menanam cabai,” cetusnya.

Sistem irigasi tetes (drip) dilakukan olehnya, dengan menyalurkan air pada selang ukuran besar, lalu diditribusikan dengan selang kecil. Sistem tersebut sudah umum digunakan oleh petani di wilayah Lamsel pada lahan yang mengalami keterbatasan air. Penjadwalan penyiraman bisa dilakukan dengan memutar kran dari bak penampungan air.

Sementara sistem kocor untuk lahan pertanian budi daya sayuran, diterapkan oleh Siti, petani di desa yang sama. Sistem kocor dilakukan dengan menyiapkan air pada drum yang telah dicampur pupuk kompos dan urea. Saat proses penyiraman air yang digunakan mengandung nutrisi pupuk, sehingga lebih efisien.

“Saat proses penyiraman sekaligus pemupukan, sehingga lebih efisien dan penggunaan air bisa dihemat,” paparnya.

Budi daya sayuran saat musim kemarau, menjadi pilihan karena memiliki usia panen pendek. Penggunaan air yang minim bisa dilakukan dengan hasil maksimal. Sayuran jenis kangkung, sawi, bayam dan kemangi memberinya hasil cukup lumayan. Memanfaatkan lahan terbatas, ia masih bisa produktif dengan penggunaan air yang lebih terbatas.

Lihat juga...