Petani di Sikka Minta Harga Jual Jambu Mete Stabil

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Tanaman jambu mete menjadi salah satu komoditi perkebunan andalan para petani di Kabupaten Sikka dan Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kondisi tanahnya cocok untuk jenis tanaman ini sebab tidak banyak membutuhkan air.

Setiap tahunnya, sejak bulan Mei dan Juni para petani di kedua kabupaten ini mulai membersihkan lahan kebun jambu metenya karena bulan Juli sampai September sudah mulai panen.

“Sekarang sudah mulai berbuah meskipun tahun ini curah hujan rendah. Kami selaku petani sangat mengandalkan tanaman perkebunan ini karena harga jualnya lumayan bagus,” kata Marianus Nong Lehan, petani jambu mete di Kampung Leng, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (3/8/2020).

Marianus katakan, setiap tahunnya petani di Kampung Leng yang terdiri atas 26 Kepala Keluarga (KK) hanya mengandalkan hasil panen jambu mete untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Ia menyebutkan, jambu mete sangat cocok ditanam di kampungnya karena kontur tanahnya banyak yang berbatu dan tanahnya keras serta sangat kering saat musim kemarau tiba.

“Bukan hanya di kebun saja, di pekarangan rumah warga di kampung ini pun semuanya menanam jambu mete. Selain sebagai pohon pelindung, bijinya pun bisa mendatangkan banyak uang,” ungkapnya.

Marianus berharap panen jambu mete tahun ini bisa lebih baik dibandingkan tahun 2019 lalu dimana hasil panen menurun drastis karena kemarau panjang dan hujan yang tidak kunjung turun.

Dirinya dan juga petani jambu mete menginginkan harga jual jambu mete tetap stabil di kisaran harga Rp20 ribu per kilogram bahkan lebih agar pendapatan petani bisa meningkat.

“Harga jualnya berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per kilogramnya. Setahun saya bisa panen 300 sampai 500 kilogram kilogram kalau tidak ada angin kencag dan curah hujan tinggi, saat jambu mete sedang berbunga dan mulai berbuah,” terangnya.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inosensius Siga, menyebutkan, hasil panen jambu mete biasanya berlangsung sejak bulan Juli sampai September setiap tahunnya.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Inocensius Siga, saat ditemui di kantornya, Senin (3/8/2020). Foto: Ebed de Rosary

Ino sapaannya, mengaku harga jual jambu mete memang tidak stabil, tergantung produksi karena harga jual akan jatuh apabila produksinya melimpah sebab pembeli sering menurunkan harga.

“Biasanya panen raya akan berlangsung akhir bulan Agustus. Saat ini harga jualnya masih rendah berkisar antara Rp13 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram sehingga banyak petani yang belum menjual,” ungkapnya.

Ino mengharapkan agar Badan usaha Milik Desa (BUMDes) bisa membeli hasil komoditi perkebunan para petani di desanya dan mencari pangsa pasar di luar NTT agar harga jual bisa meningkat dan menguntungkan petani.

Lihat juga...