Petani Lamsel Terapkan Irigasi Tetes Atasi Keterbatasan Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masa tanam kemarau atau masa tanam gadu, tetap dimanfaatkan petani di Lampung Selatan untuk menanam hortikultura. Sistem irigasi tetes (drip irigation), pun menjadi solusi keterbatasan air.

Atin, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut kebutuhan air diakali dengan instalasi sejumlah selang khusus irigasi tetes.

Ketiadaan sumur bor, irigasi permanen yang tidak mengalirkan air membuat ia memanfaatkan sungai kecil di wilayah tersebut. Mesin pompa air dimanfaatkan untuk mendistribusikan pada selang utama.

Air dari selang utama, selanjutnya disalurkan melalui selang irigasi kecil untuk penyiraman terjadwal. Sistem irigasi tetes, menurut Atin sudah dikenal sejak beberapa tahun silam dan bukan hal baru.

Atin, pemilik tanaman melon yang sebelumnya menjadi lahan penanaman cabai merah memanfaatkan irigasi tetes di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Jumat (7/8/2020). -Foto: Henk Widi

Penerapan drip irigation atau irigasi tetes, menurutnya cocok untuk budi daya tanaman hortikultura. Petani penanam cabai, melon tersebut mengaku irigasi tetes efektif kala musim tanam gadu. Sebab, penghematan air saat pasokan terbatas bisa diatasi dengan pengaturan irigasi yang tepat. Air yang disalurkan, akan menyesuaikan kebutuhan tanaman.

“Saat musim penghujan, irigasi normal efektif diterapkan karena curah hujan tinggi, ketika kemarau irigasi tetes menyesuaikan keterbatasan air dengan memanfaatkan siring yang masih mengalirkan air, sehingga tanaman tetap bisa mendapat pasokan air,” terang Atin, saat ditemui Cendana News, Jumat (7/8/2020).

Salah satu petani yang menjadi teladan petani lain di desanya itu, mengaku tingkat keberhasilan irigasi tetes sangat memuaskan. Dengan penggunaan mulsa plastik, tingkat penguapan akan bisa ditekan. Irigasi tetes sekaligus bisa menjadi solusi pemberian asupan pupuk dengan sistem kocor. Cara yang dilakukan dengan mencampur air dengan pupuk dan menyalurkannya ke tanaman.

Menanam sekitar dua ribu tanaman melon usia tiga pekan, hingga yang mulai tanam, seluruhnya memakai irigasi tetes. Pada masa tanam sebelumnya, Atin bisa memanen buah melon lebih dari 5 ton dalam satu hamparan. Sistem penanaman terjadwal dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sebab, tanaman melon bisa dipanen saat usia satu bulan.

“Satu bulan panen, tapi sudah disiapkan dua hamparan lain bibit yang lebih muda, sehingga panen bisa berkelanjutan,” paparnya.

Dani, salah satu penanggungjawab tanaman melon, menyebut pendistribusian air irigiasi tetes harus teratur. Kebutuhan air dilakukan pada pagi dan sore hari, sehingga pertumbuhan tanaman akan lebih maksimal.

Pada sejumlah tanaman melon yang mulai berbunga dan berbuah, dilakukan pengurangan buah dan cabang. Efektivitas teknik tersebut dilakukan agar buah yang dihasilkan besar.

“Pemangkasan buah dan cabang akan sangat berpengaruh pada kualitas dan kualitas buah, satu batang hanya disisakan satu buah,” terang Dani.

Proses pengurangan batang dan buah, dilakukan dengan hati-hati. Sebab sebagian tanaman yang memasuki tahap berbunga, rentan rontok. Selain pengurangan batang dan buah,sukses budi daya melon dengan penanganan pengikatan. Sulur dan batang tanaman melon harus diikat dengan tali, agar buah melon bisa tergantung dengan sempurna.

Sutinah, pekerja yang ikut melakukan pengikatan tanaman melon mengaku harus telaten. Saat pengikatan tanaman, ia harus memperhatikan hama pada daun. Saat masa tanam kemarau, potensi hama belalang dan ulat kerap muncul. Namun dengan pemantauan secara teliti, potensi hama bisa diminimalisir. Gulma rumput pada guludan saat kemarau juga minim muncul dengan pencabutan secara manual.

Lihat juga...