Potensi ‘Ilegal Fishing’ di Wilayah Laut Indonesia, Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, mengatakan bahwa saat ini masih menghadapi illegal fishing yang cukup tinggi khususnya di tiga wilayah laut Indonesia. Ketiga sektor pengawasan itu meliputi, laut Selat Malaka, Natuna Utara, dan utara Laut Sulawesi.

Adapun modus operandi pelaku illegal fishing di ketiga area tersebut, sangat khas “kucing-kucingan” berusaha masuk ke perairan Indonesia ketika tidak ada patroli pengawasan. Namun itu dapat dideteksi dengan baik melalui sistem yang ada di PUSDAL KKP maupun pemantauan melalui udara.

“Laut Natuna masih menjadi salah satu wilayah paling rawan khususnya oleh kapal-kapal ilegal dari Vietnam,” ungkap Menteri Edhy dalam konferensi pers yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Rabu (26/8/2020).

Dikatakan bahwa sekarang bukan hanya kapal pair trawl saja yang beroperasi di Laut Natuna Utara, tetapi beberapa waktu lalu petugas berhasil menangkap armada purse seine yang terdiri dari kapal penangkap, kapal penampung dan kapal lampu.

“Ini tentu menjadi kewaspadaan, karena sekarang kapal ilegal bukan hanya mengincar ikan-ikan jenis demersal/ikan-ikan yang hidup di dasar perairan, tapi juga ikan-ikan jenis pelagis atau yang hidup di permukaan,” tegasnya.

Hasil pemantauan udara juga menunjukkan adanya modus operandi baru di laut Natuna Utara khususnya di dekat perbatasan Indonesia Malaysia. Ada kecenderungan beberapa kapal Vietnam beroperasi di yurisdiksi Malaysia dengan mengibarkan bendera Indonesia.

Hal ini bisa jadi menunjukkan para pencuri ikan telah gentar beroperasi di yurisdiksi Indonesia dan mencoba beralih ke perairan tetangga dengan modus mengibarkan bendera Indonesia untuk mengelabui aparat Malaysia.

“Kami terus melakukan koordinasi dengan aparat Malaysia agar juga meningkatkan kewaspadaan. Kita juga tentu perlu waspada karena informasi dari aparat tetangga, sempat ada insiden dengan nelayan Vietnam yang melempar bom Molotov kepada aparat Malaysia. Ini tentu perlu menjadi perhatian dan saya sudah instruksikan jajaran agar aparat di lapangan tetap waspada,” paparnya.

Menteri Edhy mengatakan bahwa penangkapan terakhir yang dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2020 terhadap 2 kapal ikan asing ilegal berbendera Vietnam yaitu KM. TG 9481 TS dan KM. TG 9437 TS memang relatif tanpa perlawanan.

“Harapan kami, para pelaku illegal fishing ini semakin paham dan mengerti bahwa KKP sangat serius dalam melakukan pemberantasan illegal fishing,” terang Edhy

Dia mengatakan bahwa dalam 10 bulan kepemimpinannya, telah dilakukan penangkapan terhadap 71 kapal ikan pelaku illegal fishing dengan rincian 54 kapal ikan berbendera asing dan 17 kapal berbendera Indonesia. Adapun kapal kapal ikan berbendera asing terdiri dari 27 KIA berbendera Vietnam, 14 KIA berbendera Filipina, 12 KIA berbendera Malaysia dan 1 KIA berbendera Taiwan.

“Sampai saat ini sudah 71 kapal yang ditangkap,” ujar Edhy.

Kepada awak media Edhy juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinannya KKP akan terus melakukan langkah-langkah pemberantasan illegal fishing. Langkah tegas tersebut telah ditunjukkan dengan berbagai penangkapan kapal ilegal yang sudah dilakukan.

Namun demikian, Edhy juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan mendorong langkah-langkah diplomasi khususnya terhadap negara-negara tetangga yang selama ini mencuri ikan di perairan Indonesia.

“Kami akan mendorong langkah-langkah diplomasi dalam pemberantasan illegal fishing,” pungkas Edhy.

Lihat juga...