Pupuk Langka Petani di Karanganyar Menjerit

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SOLO – Kalangan petani di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjerit akan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi di masa tanam (MT) ketiga tahun ini. Kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi di seluruh wilayah Karanganyar.

Para petani sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Namun mereka harus gigit jari, karena keberadaan pupuk seperti hilang ditelan bumi. “Kelangkaan ini sudah 2 bulan. Kami cari sampai luar daerah tetap tidak dapat,” ujar salah satu petani di Jaten, Karanganyar, Supriyono, Senin (31/8/2020).

Ketua Gapoktan Tani Maju Jaten, Supriyono, saat dijumpai Senin (31/8/2020). Foto: Harun Alrosid

Ketua Gapoktan Tani Maju Jaten ini mengaku petani sangat kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan pupuk. Sementara di sisi lain para petani sudah terlanjur tanam padi.

“Kami sudah buru sampai Sragen dan Sukoharjo, tapi tidak dapat juga. Terpaksa beli pupuk non subsidi meski harganya jauh lebih mahal. Sebenarnya tidak cucuk  (sebanding-red) jika dibandingkan harga jual pas panen nanti,” urai dia.

Sejumlah pupuk subsidi yang sangat sulit ditemukan ini di antaranya pupuk Urea, NPK, Phonska dan SP 36. Harga pupuk non subsidi terpaut cukup jauh, yakni kisaran 30 ribu sampai 50 ribu per zaknya. Di pasaran harga pupuk urea non subsidi sebesar Rp 140 ribu per zak, sementara harga subsidi Rp 110 ribu per zak. Demikian juga untuk NPK & Phonska subsidi dijual kisaran harga 130 ribu per sak, untuk non subsidi sebesar Rp 180.ribu.

“Beda harga sampai 50 ribu ini jelas semakin membuat petani sengsara. Bayangkan jika harus memenuhi pupuk di lahan satu petak yang rata-rata 5000 meter. Itu baru satu petak, bagaimana kalau sampai hektar harga jual panen menutup atau tidak kita belum tahu,” imbuhnya.

Sejumlah petani lain di wilayahnya yang terdapat pupuk subsidi tetap juga tidak bisa membeli. Penyebabnya adalah keterbatasan kartu tani, sehingga persoalan pupuk di tingkat petani kian pelik.

“Pupuk ditimbun tapi tidak bisa dibeli karena tidak punya kartu tani. Wis nasibe buruh tani, wayahe mupuk  (sudah nasib buruh tani saat tiba memupuk) tapi tidak bisa karena tidak punya kartu tani. Mohon pemerintah memperhatikan distribusi pupuk agar petani lebih mudah mendapatkan pupuk,” tulis Ardi Keling di sebuah grup jejaring sosial warga Karanganyar.

Lain halnya yang dikeluhkan oleh Sugaly. Disamping kelangkaan pupuk, harga sayur mayur di Karanganyar juga terjun bebas. Harga sayur saat ini benar-benar jatuh, hingga paling dasar. Misalnya saja, harga sayur terong 1 kg yang hanya dihargai Rp 500 rupiah. Demikian juga untuk sayur sawi 1 kg hanya Rp 500 rupiah serta kembang kol 1 kg juga hanya Rp 1000.

“Toilet umum 2000. Kita mau buang air kecil saja harus jual terong 2 kg dan sawi 2 kg. Hello Indonesia, seindah inilah negeriku yang katanya gemah ripah loh jinawi,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Jaten, Karanganyar, Dwi Saptohaji, mengaku sudah mendapat laporan akan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut. Pihaknya juga telah berkoordinasi sejumlah camat di wilayah Karanganyar serta Dinas Pertanian untuk bisa mencari jalan keluarnya.

“Yang menjadi persoalan adalah keterbatasan pupuk subsidi karena memang tidak semua petani memiliki karta tani. Yang punya kartu tani juga ada yang kesulitan mencari pupuk subsidi. Harapannya nanti setelah pertemuan ada solusi yang tepat untuk pupuk ini,” katanya.

Lihat juga...