Pupuk Nonsubsidi Tetap Jadi Pilihan Petani di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) memilih membeli pupuk nonsubsidi dibanding pupuk subsidi.

Saniman, salah satu petani jagung di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang menyebut ia masih belum membuat kartu tani. Sesuai aturan penebusan pupuk bersubdisi harus memakai kartu tani sesuai kelompok.

Ia menyebut memilih membeli pupuk nonsubsidi untuk pemupukan tahap pertama dan kedua. Sesuai aturan pupuk yang dibeli dari kios pengecer hanya dilayani bagi pemilik kartu tani. Namun bagi petani yang tidak memiliki kartu tani bisa membeli pupuk nonsubsidi. Membeli pupuk nonsubsidi dilakukan sembari menunggu proses pembuatan kartu tani.

Sosialiasi pembuatan kartu tani menurutnya telah disosialisasikan melalui kelompok. Namun saat tanaman jagung miliknya memasuki usia satu bulan ia harus segera melakukan proses pemupukan. Meski selisih harga cukup tinggi, pilihan pupuk nonsubsidi dibutuhkan untuk proses pemupukan tahap pertama dan kedua.

“Salah satu kendala bagi petani kerap sulit mendapat pasokan pupuk subsidi apalagi saat ini harus menggunakan kartu tani,sebagai alternatif sementara pupuk nonsubsidi digunakan agar tanaman jagung bisa tumbuh dengan baik,” terang Saniman saat ditemui Cendana News, Senin (31/8/2020).

Dalam setahun Saniman menyebut dalam satu hektare butuh pupuk sebanyak 6 kuintal. Pada lahan dua hektare ia membutuhkan pupuk sebanyak 1,2 ton. Pengolahan lahan untuk menanam jagung selama setahun atau dua musim menurutnya membutuhkan sebanyak 2,4 ton. Ia kerap membeli sebagian pupuk subsidi dari petani lain yang kelebihan kuota.

Saniman menyebut harga pupuk nonsubsidi jenis NPK plus dibeli seharga Rp200.000. Jenis pupuk bersubsidi SP 36 persak atau ukuran 50 kilogram dijual seharga Rp110.000, Urea seharga Rp105.000,NPK Phonska seharga Rp125.000 persak. Meski sementara membeli pupuk nonsubsidi ia tetap menyetorkan data berupa fotocopy KTP dan kartu keluarga ke kelompok tani.

“Kami percayakan pada ketua kelompok untuk proses registrasi dan pupuk subsidi bisa diperoleh untuk masa tanam berikutnya,”papar Saniman.

Soleh, salah satu petani melalukan proses penyemprotan dengan herbisida untuk menghilangkan gulma rumput di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (31/8/2020). -Foto Henk Widi

Soleh, petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan menyebut ia tidak kesulitan mendapatkan pupuk. Baginya kebutuhan pupuk masih bisa diperoleh dengan menggunakan sistem billing. Pembelian sistem billing dilakukan melalui kelompok tani. Rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) pupuk menurutnya telah diserahkan sebelum masa tanam.

“Kuota yang ditetapkan bagi petani menyesuaikan luasan lahan sehingga kebutuhan bisa dihitung,” bebernya.

Meski hanya mempergunakan pupuk sebanyak 2 ton untuk kebutuhan sekitar dua hektare. Namun ia memilih menambah pupuk nonsubsidi agar pertumbuhan tanaman semakin baik. Normalnya dalam satu hektare jagung yang dipanen bisa mendapatkan sekitar 350 karung. Peningkatan bobot dilakukan dengan tambahan pupuk nonsubsidi jenis NPK plus.

Ahmad Widodo, Humas Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Lamsel mengaku pupuk jadi kebutuhan penting. Ia menyebut KTNA telah mengusulkan kuota berbagai jenis pupuk bersubsidi pada masa tanam 2021. Kepada sejumlah petani yang belum memiliki kartu tani ia berharap agar segera membuatnya melalui kelompok tani.

“Penggunaan kartu tani disiapkan agar pupuk bersubsidi bisa benar benar tepat sasaran sampai kepada petani yang membutuhkan,” bebernya.

Pendataan pendistribusian pupuk bersubsidi dilakukan sesuai dengan ketepatan. Ketepatan yang dibutuhkan petani meliputi tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, tepat tempat, tepat harga (6 tepat). Penggunaan pupuk nonsubsidi bagi petani menurutnya tetap bisa dilakukan dalam paket pembelian dengan pupuk subsidi.

Kebutuhan pupuk nonsubsidi untuk tambahan pupuk subsidi diakuinya seiring dengan penggunaan pupuk cair.  Dalam diskusi dengan KTNA nasional disepakati pupuk cair dimasukkan dalam pupuk bersubsidi yang anggarannya sudah tersedia untuk tahun 2020. Lancarnya distribusi pupuk subsidi, nonsubsidi akan bermanfaat bagi petani penanam jagung,padi dan tanaman hortilultura.

Abdurohman, salah satu petani di Desa Totoharjo,Kecamatan Bakauheni menyebut tidak pernah telat mendapat pupuk. Memiliki kelompok tani membuatnya mudah mendapatkan pupuk bersubsidi. Namun kebutuhan akan pupuk nonsubsidi tetap diperlukan olehnya untuk menambah kesuburan tanaman. Menanam padi rojolele seluas sepertiga hektare dengan pemupukan maksinal membuat ia bisa memanen 3,5 ton gabah kering panen.

Lihat juga...