Refugia Jadi Alternatif Pengendalian Hama pada Tanaman Pertanian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Berbagai jenis bunga menyerupai taman berada di sepanjang jalan Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel). Bunga warna warni yang terdiri dari keningkir kertas, pacar sengaja ditanam sebagai refugia, tempat bagi predator alami hama.

Andi, salah satu pekerja pada lahan pertanian di desa tersebut mengungkapkan, hama pada tanaman pertanian yang kerap muncul seperti tungau, wereng, belalang dan ulat daun kerap dimangasa oleh predator alami yang hidup pada refugia. Bahkan jenis kumbang, lebah madu yang hidup secara alami akan menjadi penyerbuk alami tanaman cabai dan melon saat berbunga.

“Sejak tiga tahun terakhir banyak petani yang peduli pada kelestarian lingkungan dengan pengurangan pemakaian bahan kimia dan menjadikan refugia sebagai alternatif pengendalian hama pada tanaman terutama padi,” terang Andi saat ditemui Cendana News, Rabu (5/8/2020)

Pemanfaatan refugia jadi pengurang penggunaan pestisida karena hama akan lebih minimal. Sistem tumpang sari dengan sejumlah sayuran bisa menjadi bahan makanan yang dapat dipanen sebelum padi.

Sunanti, petani lain di desa yang sama memanfaatkan pematang sawah untuk menanam sayuran. Berbagai jenis tanaman sayuran itu meliputi tomat, cabai, kemangi, kacang panjang dan sawi. Di sela tanaman sayuran juga disertakan berupa keningkir, bunga matahari dan bunga kertas.

“Penyuluh pertanian terus melakukan pendampingan dalam pemanfaatan refugia pengurang hama padi,” terang Sunanti.

Pemantauan dan pengelolaan hama terpadu secara alami diakuinya sekaligus menjaga kualitas padi yang dihasilkan. Meski tetap memakai pupuk kimia, herbisida dan pestisida, namun jumlahnya bisa dikurangi pada tanaman padi.

Merubah kebiasaan dalam pengendalian hama terpadu menurut Sunanti butuh waktu panjang. Sebab petani tidak serta merta beralih dari penggunaan pestisida ke refugia dalam pengendalian hama. Petani yang dilibatkan menurutnya harus memiliki pola pikir yang sama sehingga penerapan pertanian ramah lingkungan bisa dilakukan.

“Satu hamparan dalam penanaman refugia bisa jadi contoh dan bisa diikuti petani lain,” paparnya.

Sujito, petani lain di desa itu mengaku selain refugia pengendalian hama terpadu bisa memanfaatkan burung hantu. Namun kendalanya habitat burung tersebut pada sejumlah rumpun bambu mulai berkurang. Pemangsa alami hama tikus tersebut semakin langka sehingga petani memakai bahan kimia.

Potensi hama wereng, belalang dan ulat menurutnya bisa diatasi dengan penanaman refugia. Berbagai jenis tanaman yang memiliki keindahan tersebut sekaligus berfungsi untuk tempah hidup alami predator hama. Selain memiliki fungsi bagi lahan pertanian penanaman berbagai jenis bunga sekaligus menghasilkan oksigen yang baik untuk manusia.

Lihat juga...