Ribuan Burung Dilepasliarkan di Taman Hutan Raya Wan Abdulrahman

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Ratusan kali upaya penyelundupan satwa liar jenis burung terus digagalkan oleh pihak kepolisian dan karantina Lampung. Pelepasliaran dilakukan oleh pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung berkoordinasi dengan unsur terkait.

Muhamad Jumadh, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung (BKP) menyebut satwa jenis burung berhak merdeka.

Kesejahteraan hewan atau animal welfare dilakukan oleh karantina dengan melakukan pelepasliaran. Sejumlah kebebasan satwa yang harus diperhatikan meliputi bebas rasa haus, lapar, panas, ketidaknyamanan, luka, penyakit dan sakit. Sejumlah kebebasan tersebut terkungkung oleh aktivitas perburuan, pengiriman dengan media pembawa hingga jual beli.

Kerja sama dengan lintas sektoral dilakukan oleh Karantina dengan pelepasliaran sebanyak 1.723 ekor satwa jenis burung. Ribuan ekor burung liar tersebut merupakan jenis pleci, platuk bawang, ciblek, gelatik, jalak kerbau, prenjak dan srindit. Pelepaiaran melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Flight Protecting Indonesia’s Bird, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Seksi III wilayah Lampung.

“Pelepasliaran dilakukan pada Taman Hutan Raya Wan Abdulrahman di Kabupaten Pesawaran terhadap satwa jenis burung liar yang akan dilalulintaskan dari Sumtera ke Jawa agar bisa bebas di habitat aslinya,” terang Muh. Jumadh di Bandar Lampung, Sabtu (15/8/2020).

Muh. Jumadh, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung di Bandar Lampung, Sabtu (15/8/2020). -Foto Henk Widi

Ribuan ekor satwa jenis burung liar tersebut merupakan hasil pengamanan kolaborasi petugas di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni. Bekerja sama dengan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, ribuan burung itu diamankan sebelum dibawa ke Pulau Jawa. Rencananya ribuan ekor burung asal Lampung itu akan dibawa ke Solo, Jawa Tengah.

Proses perlalulintasan media pembawa tanpa dokumen surat kesehatan hewan, tidak dilaporkan ke karantina jadi dasar pengamanan. Sebab sesuai Undang Undang Nomor 21 Tahun 2019 setiap media pembawa hama dan penyakit hewan dan karantina harus memiliki dokumen. Penahanan dilakukan terhadap media pembawa selanjutnya dilakukan pelepasliaran.

“Maraknya perlalulintasan satwa burung melalui Pelabuhan Bakauheni dalam sebulan bisa mencapai delapan kali berjumlah puluhan ribu ekor,” paparnya.

Pemanfaatan sumber daya dengan cara mengeksploitasi satwa mengancam kelestarian alam. Karantina dan berbagai unsur dengan kolaborasi intelijen terus meminimalisir pelanggaran karantina. Selain penyelundupan satwa jenis burung tersebut berbagai upaya menggagalkan pengiriman komoditas tanpa dokumen dilakukan pada berbagai jenis media pembawa lain.

Nugraha Putra, koordinator wilayah Sumatera LSM Flight Protecting Indonesia”s Birds menyebut satwa jenis burung kerap diselundupkan. Lebih dari 40 ribu ekor satwa burung berbagai jenis digagalkan pengirimannya sejak awal 2020. Memasuki semester kedua LSM Flight dan karantina terus melakukan upaya penyelamatan burung.

“Kemerdekaan burung juga menjadi psperhatian bagi manusia agar mereka bisa hidup bebas di alamnya,jangan hanya faktor ekonomi kelestarian diabaikan,” paparnya.

Penyelundupan satwa jenis burung kerap bisa lolos dari Sumatera ke Jawa imbas adanya oknum. Oknum tersebut sebagian mengkondisikan lolosnya satwa jenis burung asal Sumatera ke Jawa. Diiiming-imingi upah yang tinggi mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah bisnis pengiriman burung masih kerap terjadi.

Pengamanan dan pelepasliaran sekaligus penindakan jadi bagian upaya meminimalisir penyelundupan satwa jenis burung. Pelepasliaran kerap dilakukan pada sejumlah lokasi hutan yang memiliki sumber makanan melimpah. Sejumlah lokasi pelepasliaran berada di Gunung Rajabasa, Tahura Wan Abdulrahman dan Taman Nasional Way Kambas.

Lihat juga...