Romansa Klasik, Nostalgia Penggemar Kaset Pita

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Bagi Haris Hermawan, kaset pita tidak hanya sekedar menawarkan hiburan, namun juga nostalgia masa lalu. Maka tidak mengherankan, jika hingga kini, pria 47 tahun tersebut tetap setia dengan koleksi ratusan kaset miliknya.

“Saat ini, dengan teknologi digital yang terus berkembang, mau mendengarkan musik apa atau penyanyi siapa saja, bisa dengan mudah mendapatkannya. Tinggal buka telepon genggam, lalu berselancar di dunia maya, semua bisa didapat,” paparnya, saat ditemui di Semarang, Minggu (30/8/2020).

Meski demikian, dirinya mengaku ada kesenangan yang tidak bisa diperoleh, saat mendengarkan lagu digital. “Nostalgia masa lalu menjadi salah satu alasannya. Bagaimana perjuangan saya, saat mencari atau mendapatan kaset yang sama inginkan. Terlebih pada waktu dulu, belum ada kaset bajakan, jadi harus beli kaset orisinil atau asli,” paparnya.

Maka meskipun zaman sudah berganti, dirinya masih belum rela melepaskan kaset-kaset miliknya untuk berpindah tangan, apalagi jika harus dibuang ke tempat sampah.

“Ada banyak cerita, yang bisa jadi tidak dirasakan generasi sekarang. Misalnya, bagaimana keasyikan memutar pita kaset menggunakan pensil atau bolpoin, pas pita kaset nglokor (kusut-red), membersihkan head tape pakai alkohol. Mungkin ini terlihat rumit, namun justru disini letak keasyikannya,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya tidak menampik, jika terkadang muncul rasa kebosana jika harus mendengarkan lagu-lagu yang sama. Solusinya, bisa dilakukan barter atau menjual koleksi lama untuk dibelikan kaset lawas yang baru.

“Kalau mau jualan atau barter, bisanya pakai media sosial, atau kalau di Semarang, ada satu toko yang menjadi langganan saya, untuk menjual atau beli kaset. Tentu saja kaset lawas, karena sekarang ini sudah tidak ada lagi yang produksi kaset pita,” tambahnya.

Terpisah, penjual kaset pita, Deni Kurniawan, mengaku meski penggemar kaset pita, tidak sebanyak dulu, namun masih tetap ada. Termasuk saat ini, tak kala teknologi digital terus berkembang.

“Pembeli atau penjual kaset masih ada. Meski tidak setiap hari ada, namun dalam seminggu, pasti masih ada yang mampir ke toko. Entah itu mau beli, atau menjual koleksi kaset miliknya,” jelasnya.

Hal tersebut ditunjukkannya dari ribuan kaset pita yang terpajang di toko kaset miliknya, yang merangkap menjadi Rumah Makan (RM) Padang Jaya, Semarang. “Kalau untuk jualan kaset, semua harga sama, tergantung kondisinya, rata-rata Rp 20 ribu per kaset,” paparnya.

Sementara, untuk membeli kaset dari masyarakat, juga tergantung kondisi kaset tersebut.

“Masyarat masih sering jual kaset ke sini, namun tidak semuanya bisa dibeli. Biasanya saya lihat dari kondisi fisik dan keaslian kaset. Misalnya, keaslian itu dilihat dari cover album, sesuai tidak dengan isi kaset. Meski tidak saya perdengarkan satu-satu, cukup dlihat saja sudah ketahuan,” terangnya.

Jika menemukan kaset bajakan atau hasil rekaman sendiri, tentu saja kaset tersebut tidak bernilai jual, sehingga tidak dibelinya.

Di satu sisi, Deni juga mengenang masa, disaat kaset pita berjaya. Apalagi ketika ada lagu yang booming atau ‘meledak’ di pasaran. “Saya masih ingat dulu, sekitar tahun 1989-an saat lagu Isabella, meledak di pasaran. Itu yang beli banyak sekali, saya jualan kaset seperti jualan kacang rebus. Sehari bisa menjual hingga 500 kaset,” terangnya.

Hal serupa juga terjadi saat lagu Bento dari Iwan Fals, animo masyarakat yang tinggi, berimbas pada penjualan kaset lagu tersebut. “Namun itu dulu, pernah ada cerita manis. Kalau sekarang, mengalir saja,” pungkasnya.

Lihat juga...