Sejumlah Siswa di Sikka Hanya Bermain karena Tak Bisa Belajar Daring

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Hingga saat ini sejumlah siswa sekolah di beberapa wilayah di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tidak bisa belajar secara daring, karena di wilayahnya tidak ada sinyal telepon selular. Setiap hari, mereka pun hanya bermain saja di rumah.

“Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya tidak bisa belajar karena tidak ada sinyal telepon selular. Banyak orang tua di desa juga tidak mampu membeli telepon genggam android,” ungkap Rafael Raga, tokoh masyarakat, mantan Ketua DPRD Sikka, Kamis (27/8/2020).

Menurut Rafael, pembelajarn secara daring harus dievalusi karena tidak efektif untuk masyarakat di desa-desa yang kesulitan sinyal telepon selular, dan orang tua murid tidak mampu membeli telepon genggam.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sikka, NTT, Kensius Didimus, saat ditemui, Kamis (27/8/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Sementara itu pembelajaran melalui siaran radio yang diadakan oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Sikka, juga tak dapat diakses oleh para murid di desa-desa terpencil, karena sinyal.

“Bila tidak menggunakan telepon selular untuk mendengar radio, bisa juga dengan membeli radio.Tapi pembelajaran seperti ini kurang efektif dan lebih baik dilakukan tatap muka, tetapi dengan penerapan protokol kesehatan dan pesertanya terbatas,”ungkapnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kensius Didimus, mengatakan, ada 16 kecamatan di Kabupaten Sikka yang belum terjangkau sinyal telepon selular.

Ia menjelaskan, terdapat 45 desa yang wilayahnya masih belum terjangkau sinyal telepon selular, sehingga menyulitkan para murid dan mahasiswa untuk belajar daring dari rumah.

“Orang tua murid sering mengeluhkan hal ini kepada kami, bahkan pemerintah desa selalu mengusulkan agar wilayahnya bisa segera dipasangi jaringan telepon selular,” ungkapnya.

Kensius menyebutkan, anak sekolah harus berjalan ke bukit atau mencari tempat yang ada sinyal telepon selular untuk bisa mengerjakan tugas, bahkan harus memanjat pohon agar bisa mendapatkan sinyal telepon.

Ia menegaskan, pihaknya sudah menyampaikan keluhan ini ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan tembusan kepada Direktur PT. Bhakti yang biasa membangun Based Transceiver Station (BTS).

“Proposal permohonan bantuan pembangunan BTS sudah kami serahkan langsung kepada staf ahli Menteri Kominfo, agar bisa ditindaklanjuti pembangunan BTS di 45 titik di Kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Lihat juga...