Sekolah Alam di Bantargebang-Bekasi Didik Anak Pemulung

BEKASI – Kerumunan anak usia sekolah dasar bermain ceria di beberapa saung, mereka bersiap menyantap makan siang secara prasmanan di tengah aroma menyengat berasal dari gunungan sampah Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. 

Kondisi sekolah Alam Tunas Mulia di Jalan Pangkalan II, Rt 02 Rw 04 Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa anak usia sekolah dasar yang nyantri untuk belajar tahfidz.

Sekolah tersebut dihimpit dua gunung sampah, karena berbatasan langsung dengan TPST Bantargebang, dan TPA Sumurbatu.  Sekolah Alan Tunas Mulia, dari awal dibangun dedikasinya dikhususkan bagi anak pemulung, yang berkeinginan mengeyam pendidikan, tetapi terkendala teknis dan biaya.

Nadam Dwi Subekti, pendiri sekolah Alam Tunas Mulia Bantargebang, Kota Bekasi, Kamis (27/8/2020). -Foto: M Amin

Aktivitas belajar mengajar di sekolah khusus anak pemulung tersebut, memang belum melaksanakan aktivitas belajar tatap muka secara intens di tengah Covid-19. Pertemuan masih dibatasi seminggu sekali, tetapi program tahfidz Quran masih berjalan, terutama bagi santri yang menginap.

“Mensiasati Covid-19 tetap ada pertemuan tatap muka. Tapi dengan jumlah terbatas. Karena saat ini, ada wifi gratis sumbangan dari donatur,” ungkap Nadam Dwi Subekti, pendiri Sekolah Alam Tunas Mulia, kepada Cendana News, Kamis (27/8/2020).

Pria 51 tahun asal Cilacap tersebut mengaku, bahwa sekolah alam Tunas Mulia Bantargebang sudah dua tahun terakhir memadukan pendidikan skill dan tahfidz, dengan mendirikan pesantren di lingkungan sekolah. Saat ini, ada puluhan santri menginap atauistilahnya ngalong hanya untuk belajar tahfidz Alquran.

Nadam mengatakan, Yayasan Tunas Mulia untuk program tahfidz tidak membatasi  tempat sekolah. Meski mereka sekolah formal di luar lingkungan sekolah alam, asal kembali lagi saat sore. Karena tahfidz, belajarnya malam.

“Sekolah alam untuk skill, pelajar dibekali cara ternak seperti ayam kampung, lele dan sebentar lagi puyuh. Juga ada teknik berocok tanam,” ungkap Nadam, mengaku juga melakukan penggemukan untuk hewan kurban.

Menurutnya, saat ini sekolah alam Tunas Mulia Bantargebang terus berkembang, banyak donatur yang peduli dengan memberi sumbangan komputer, bangunan dan lainnya. Semua dari relawan yang peduli.

Saat ini, ada sekitar 250 total jumlah peserta didik di Sekolah Alam Tunas Mulia, mulai dari PAUD, SD, SMP. Tapi, jumlah terbanyak ada di tingkat PAUD dan SD, tingkat SMP. Biasanya, mereka lebih memilih sekolah formal atau pun tidak melanjutkan sekolah.

“Sekolah Alam Tunas Mulia memiliki 15 tenaga pendidik. Untuk Peserta didik tidak perlu syarat khusus seperti KK, KTP, yang pasti tidak mampu, anak pemulung yang ingin belajar,” tandasnya.

Peserta didik datang dari berbagai tempat, tidak hanya di sekitaran Bantargebang, bahkan ada dari Jakarta, Pondok Gede, Cikarang, dan lain.

“Prinsip sekolah alam sekolah tidak harus dalam ruangan, itu motivasi awal didirikan sekolah Alam Tunas Mulia, dari nol bergeraknya sejak 2006. Didirikan empat orang. Awalnya nebeng di lembaga orang,” pungkasnya.

Lihat juga...