Sekolah di Daerah Terpencil di Aceh Tengah Terapkan Belajar Luring

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Uswatuddin – Foto Ant

BANDA ACEH – Sekolah-sekolah terpencil di Kabupaten Aceh Tengah, menerapkan sistem belajar luar jaringan atau luring. Guru sekolah mendatangi rumah siswa, sebagai pengganti metode pembelajaran tatap muka selama pandemi COVID-19.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Uswatuddin mengatakan, banyak sekolah menerapkan metode pembelajaran secara daring atau dalam jaringan. Namun, sistem luring dikhususkan bagi sekolah di wilayah terpencil, yang tidak memiliki akses internet.

Atau bagi siswa yang tidak memiliki telepon pintar atau smartphone. “Ya bagi sekolah-sekolah di wilayah pinggiran yang tidak ada akses jaringan internet atau anak tidak ada smartphone, itu kita terapkan sistem luring. Jadi gurunya yang datang ke rumah-rumah siswa,” kata Uswatuddin, di Aceh Tengah, Senin (10/8/2020).

Sistem luring dijalankan dengan cara memberikan tugas terjadwal kepada para guru, untuk mendatangi langsung setiap rumah siswa. Dalam sepekan, para guru bisa bertugas selama tiga atau empat hari. “Jadi guru datang memberikan sedikit materi, memberikan sedikit soal, kemudian pada hari yang lain gurunya datang lagi untuk mengambil,” tuturnya.

Kegiatan tersebut dinilai berjalan lebih efektif, karena bagi wilayah-wilayah terpencil yang masih aman dari penyebaran virus corona, siswa bisa langsung bertemu dengan guru meski dirumah. Uswatuddin menyebut, pembelajaran secara luring sudah dimulai sejak awal pandemi COVID-19 di Maret lalu. Hingga kini, penerapan sistem tersebut berjalan baik dan efektif, tanpa ada kendala yang berarti.

“Sejauh ini tidak ada kendala. Yang ada kendala sedikit itu gurunya karena berjalan kesana kemari, mereka meminta apakah tidak ada uang minyak (bahan bakar).  Itu kita serahkan ke pihak sekolah. Kendala yang lain tidak ada,” jelasnya.

Uswatuddin menyebut, sekira 25 persen sekolah menerapkan pembelajaran sistem luring. “Itu pun tidak semua sekolah, jadi sebagian sekolah di Linge, sebagian sekolah di Rusip, dan sebagian sekolah di Ketol. Kalau kita total hanya sekitar 25 persen saja,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...