Selama Dua Hari di Kalbar Terpantau Ada 3.093 Hotspot

Tangkapan layar BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Mempawah di Mempawah, Minggu (9/8/2020) yang mencatat sejak 8 hingga 9 Agustus 2020, terpantau ada 3.093 hotspot atau titik panas di Provinsi Kalimantan Barat – Foto Ant

PONTIANAK – BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Mempawah mencatat, dalam dua hari terakhir, sejak Sabtu (8/8/2020) hingga Minggu (9/8/2020), terpantau ada sebanyak 3.093 hotspot atau titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar).

Titik terbanyak terpantai ada di Kabupaten Sanggau. “Sebaran hotspot tersebut berdasarkan data LAPAN pada 8 Agustus pukul 07.00 WIB hingga 9 Agustus 2020 pukul 07.00 WIB,” kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mempawah, Syafrinal, Minggu (9/8/2020).

Dari 14 kabupaten di Kalbar, hanya tiga daerah yang nol hotspot. Yakni Kota Pontianak, Singkawang dan Kabupaten Kayong Utara. Hotspot terbanyak ada di Kabupaten Sanggau dengan 1.521 titik, kemudian disusul Kabupaten Landak 931 titik, Sekadau 70 titik, Sintang 59 titik, Mempawah 49 titik, Sambas 22 titik, Kapuas Hulu 20 titik, Kubu Raya 16 titik, dan Melawi 12 titik. “Sementara itu, untuk kualitas udara hingga saat ini tercatat masih dalam keadaan baik hingga sedang,” kata Syafrinal.

Sebelumnya, Koordinator Manggala Agni Provinsi Kalbar, Sahat Irawan Manik, mengajak semua kalangan masyarakat ikut terlibat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Mari kita semuanya untuk selalu siaga dan semakin peduli pada masalah karhutla yang hampir setiap tahun berulang terjadi, agar jangan menjadi bencana asap, apalagi di masa pandemi COVID-19,” katanya.

Semua kalangan masyarakat perku menekankan pentingnya keterlibatan dalam membudayakan pembukaan lahan tanpa bakar. Hal itu untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Sahat mengatakan, jajarannya bersama aparat Kepolisian Daerah, Kodam XII/Tpr, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sudah meninjau kerja Posko Patroli Terpadu Pencegahan Karhutla di Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya.

Kegiatan di Posko Patroli Terpadu Pencegahan Karhutla, mencakup penguatan kapasitas masyarakat tingkat tapak, untuk mendukung pencegahan dan deteksi dini kebakaran hutan dan lahan. Kemudian ada pemetaan area rawan, kepemilikan lahan dan alternatif solusi serta perencanaan pembuatan demplot percontohan pembukaan lahan tanpa bakar di tingkat desa. “Pemerintahan desa diharapkan mempunyai kesiapan dalam menghadapi karhutla, serta mempunyai rencana aksi yang dapat dilakukan secara terus menerus setiap tahunnya,” pungkas Sahat Irawan Manik. (Ant)

Lihat juga...