‘Stunting’ Masih Mengancam di Jateng

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, -Dok: CDN

SEMARANG – Di tengah pandemi Covid-19, kasus gizi buruk atau stunting juga menjadi ancaman di Jawa Tengah. Meski berdasarkan data dari Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), terdapat penurunan kasus stunting di wilayah tersebut, sebanyak 14,9 persen pada Februari 2020.

Stunting ini merupakan masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama, akibat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi,” papar Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, di Semarang, Kamis (13/8/2020).

Dipaparkan, anak yang mengalami stunting tinggi badannya lebih pendek jika dibandingkan anak seumurnya. Stunting terjadi mulai janin dalam masih kandungan, dan baru akan nampak saat anak berusia dua tahun.

Dipaparkan, pihaknya melakukan pemantauan terkait kasus stunting di seluruh kabupaten/kota. Jumlah balita yang diukur tinggi badannya se-Jateng, sebanyak 955.835 balita.

“Jadi dari data riset sebelumnya, ada 955.835 balita, yang diukur tinggi badan, sebanyak 14,9 persen di antaranya mengalami stunting atau kerdil. Ini yang menjadi perhatian kita,” terangnya.

Yulianto menjelaskan, dari hasil pemantauan terhadap balita-balita di Jateng, diketahui Wonosobo menjadi kabupaten tertinggi kasus stunting-nya. Disusul Banjarnegara sebanyak 24,31 persen, dan Rembang 24,15 persen.

Menurutnya, dengan pendataan yang dilakukan itu, bisa diketahui perkembangan kasus stunting di Jateng. Sehingga, pihaknya bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk penanganannya. Termasuk melakukan kontrol ketat oleh petugas kesehatan, hingga pengoptimalan gerakan masyarakat sehat (germas).

“Langkah pemerintah adalah pemantauan gizi bagi balita di masa pandemi ini, posyandu sesuai kondisi di wilayah dengan menerapkan protokol kesehatan. Selanjutnya adalah survei gizi menggunakan aplikasi elektrik laporan gizi berbasis masyarakat. Kita dorong Germas juga bisa optimal,” terangnya.

Pihaknya juga melakukan penambahan makanan bagi ibu hamil berupa formula F75 maupun F100, dengan pengawasan bidan desa dan ahli gizi. Termasuk tablet penambah darah untuk remaja dan ibu hamil.

Tidka hanya itu, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga harus diupayakan oleh setiap rumah tangga, termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

“PHBS menurunkan kejadian sakit, terutama penyakit infeksi, yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap tubuh dan terhambatnya pertumbuhan,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Tim Penggerak PKK Jateng, Siti Atikoh Ganjar Pranowo, peran keluarga juga penting dalam upaya pencegahan stunting.

“PKK sangat aktif dan fokus melakukan pencegahan stunting dengan berbagai program. Termasuk, posyandu, sosialisasi dan edukasi, serta mengaplikasikan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng,” ungkapnya.

Dipaparkan, posyandu menjadi salah satu ujung tombak pencegahan stunting. Namun saat ini sedang pandemi, sehingga semua kegiatan terhambat dan tidak bisa berjalan normal.

Dirinya memberikan solusi, untuk mengoptimalkan peran keluarga dalam pencegahan stunting. Keluarga mampu menjadi ruang edukasi, sekaligus pengawasan dalam menjalankan program-program pencegahan, mulai dari pola hidup sehat dan pemberian asupan makanan yang dibutuhkan.

“Pencegahan stunting selain dilakukan untuk ibu hamil, juga bagi remaja. Karena problem remaja biasanya anemia, kalau tidak diantisipasi juga akan berpengaruh nantinya. Jadi, selain keluarga, pencegahan stunting juga harus dilakukan dengan berkolaborasi semua pihak,” pungkasnya.

Lihat juga...