Ternyata ini Penyebab Kasus Konfirmasi COVID 19 Terus Meningkat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Meningkatnya jumlah pasien konfirmasi positif di Indonesia, dinyatakan masih akan terus berlanjut jika pemutusan rantai penularan COVID-19 tidak secepatnya dilakukan. Dengan cara melakukan tes masif yang tepat sasaran dan isolasi.

Epidemiolog Henry Suhendra saat dihubungi, Sabtu (29/8/2020) – Foto Ranny Supusepa

Tercatat, pada Jumat (28/8) kasus konfirmasi mengalami kenaikan 3.003 menjadi 165.887 kasus. Jumlah spesimen yang diperiksa mencapai 33.082 dan jumlah suspek 77.857.

Epidemiolog Kolaborator Laporcovid19, Henry Surendra menyatakan, peningkatan penemuan kasus konfirmasi COVID 19 di Indonesia bisa disebabkan oleh semakin banyaknya tes yang dilakukan dan tidak patuhnya masyarakat pada protokol kesehatan yang menimbulkan kluster baru.

“Sejak awal kan sudah diestimasi oleh pakar dari Harvard bahwa sebenarnya kasus COVID-19 sudah masuk Indonesia meskipun pada saat itu belum terdeteksi oleh sistem kesehatan kita,” kata Henry saat dihubungi, Sabtu (29/8/2020).

Jadi, lanjutnya, memang ada indikasi keterlambatan deteksi dini masuknya COVID-19 ke Indonesia.

“Sehingga pada saat kasus pertama ditemukan, sebenarnya penularan sudah terjadi,” ujarnya.

Meskipun tes PCR yang dilakukan di Indonesia makin bertambah, tapi sebenarnya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan standar tes mingguan yang direkomendasikan oleh WHO.

“Jadi, ada interaksi antara keterlambatan deteksi dini dan isolasi kasus, dengan kapasitas tes yang bertambah namun masih belum memenuhi standar minimal yang direkomendasikan WHO,” ujarnya lagi.

Faktor ini, lanjutnya, bersama-sama mempengaruhi terus terjadinya penularan COVID-19 di masyarakat, karena kunci dari pemutusan rantai penularan COVID-19 adalah tes dan isolasi yang cepat dan tepat.

“Yang perlu digarisbawahi, tes tidak hanya banyak, tapi harus tepat sasaran. Seharusnya mayoritas tes dilakukan pada suspek dari hasil pelacakan kontak kasus dan populasi berisiko lainnya. Bukan hanya banyak tapi dilakukan pada sembarang orang,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dengan melihat trend kasus baru saat ini, ditambah dengan belum optimalnya tes, pelacakan kontak kasus dan isolasi di Indonesia, diperkirakan masih akan melihat tren peningkatan kasus beberapa waktu ke depan.

“Apalagi dengan adanya realisasi dan rencana pembukaan pariwisata, bioskop dan tempat hiburan umum lainnya. Hal ini dapat meningkatkan mobilitas dan potensi kerumunan, sehingga meningkatkan risiko masyarakat untuk terpapar COVID-19,” ucapnya.

Henry juga menyatakan pentingnya peningkatan kapasitas tes, pelacakan kontak dan isolasi untuk bisa mempercepat pemutusan rantai penularan di populasi.

Tentu perlu dilakukan kajian mendalam terkait potensi dampak peningkatan kasus dan kematian karena COVID-19 apabila pemerintah akan membuka fasilitas umum seperti sekolah, pariwisata, bioskop dan fasilitas umum lainnya yang berpotensi memfasilitasi terjadinya penularan.

“Jika belum dilakukan kajian potensi risiko dan pemaparan ke publik, saya kira terlalu riskan untuk mengambil langkah-langkah tersebut. Publik juga perlu tahu kemungkinan risiko yang dihadapi atas segala kebijakan publik yang akan diambil,” pungkasnya.

Lihat juga...