Tips Memantau Puncak Hujan Meteor Perseids

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Mulai dari pukul 20.00 WIB masyarakat pencinta langit bisa menikmati puncak hujan meteor Perseid hingga pukul 23.00WIB malam ini. Hujan meteor ini memiliki kecerlangan yang memungkinkan para pecinta langit mengamati dengan mata telanjang.

Staf Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) Muhammad Rayhan menyatakan puncak Perseid tahun ini cukup menarik karena Bulan sudah menyusut menjadi fase setengah akhir dan baru akan terbit selepas tengah malam.

“Meski begitu, cuaca yang belakangan mendung dan hujan menjadi halangan utama. Yang jelas, pastikan bahwa langit daerah kita bebas dari prediksi berawan bahkan hujan. Pastikan pula langitnya bebas dari polusi udara dan cahaya,” kata Rayhan saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).

Untuk menambah kemungkinan keterlihatan di sela-sela langit yang mungkin berawan, amati sejak awal malam, meski puncaknya baru akan terjadi saat lewat tengah malam sampai akhir malam.

“Amati langit utara yang akan menjadi titik radian hujan meteor. Namun dapat pula sesekali menoleh ke arah lain untuk kemungkinan Meteor yang panjang,” ujarnya.

Staf Astronomi POJ Muhammad Rayhan. -Foto Ranny Supusepa

Tak lupa, Rayhan berpesan jika ingin melakukan pengamatan yang lama, bekali diri dengan balutan pakaian hangat dan cemilan tengah malam.

Astronom POJ Widya Sawitar menjelaskan perkiraan jatuhnya meteor dengan kecepatan 59 km per detik dan intensitasnya kisaran 110 meteor per jam.

Yang perlu diingat, lanjutnya, bahwa fenomena ini terbaik dilihat dengan kasat mata dan tentu saja sedapat mungkin dengan kondisi langit yang ideal yang antara lain mempertimbangkan faktor polusi udara dan polusi cahaya.

“Uniknya bahwa kehadiran Bulan pun dapat berpengaruh saat pengamatan fenomena ini. Kondisi Bulan pada tanggal 11 Agustus sudah memasuki fase separuh akhir. Jadi, faktor usia Bulan dan kapan terbit dan terbenamnya juga harus menjadi catatan,” imbuh Widya.

Ia menjelaskan sebutan Perseids ini adalah karena titik radiannya berada pada rasi bintang Perseus.

“Perseids merupakan salah satu hujan meteor yang sangat tergolong cemerlang, memiliki jumlah per jam yang cukup banyak, kisaran 50 hingga 100 meteor per jam,” ungkapnya.

Selain itu, sebenarnya masih belum ada kesepakatan kapan intensitas maksimal dari Perseids.

“Denning tahun 1923 menyatakan setiap 11,72 tahun. Untuk fenomena tahunannya, rata-rata kisaran 80 meteor akan terlihat setiap jam, kecuali tahun 1862, 1863, 1921, dan 1992 mencapai 250 meteor per jam. Sangat sedikit tahun 1911 dan 1912. Ada keunikan pada tahun 1991, yaitu mencapai 350 meteor per jam, namun berlangsung sangat singkat. Juga tahun 1992 yang bahkan kurang dari 1 jam saja. Kedua fenomena terakhir populer dengan sebutan fenomena semburan (outburst),” urainya.

Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) Widya Sawitar.  -Foto Ranny Supusepa

Adapun komet sebagai sumber Perseids adalah komet 1862 III atau nama lainnya adalah 109P/Swift-Tuttle yang ditemukan oleh Lewis Swift dari Marathon – New York tanggal 16 Juli 1862 dan secara terpisah oleh Horace Tuttle dari Observatorium Harvard – Massachusetts.

“Dari ragam penelitian bahwa komet ini memiliki periode 130-3 tahun, inklinasi orbit 113034’, jarak perihelion 0,975 sa dan aphelion 47,6 sa dengan eksentrisitas (kelonjongan bentuk orbit) 0,962 (elips yang sangat lonjong) dan sumbu panjang 24,33 sa,” papar Widya lebih lanjut.

Giovanni Schiaparelli merupakan salah satu orang pertama yang menyadari bahwa komet ini merupakan induk dari Perseids termasuk penyebutannya.

“Terkait kekonstanannya, maka diduga materi yang tertinggal di sepanjang jejak komet ini tergolong tua dengan posisi lintasan yang stabil, tidak banyak berubah. Terakhir komet mendekati Bumi adalah pada tahun 1992,” pungkasnya.

Lihat juga...