Tren Menanam Bonsai dan Tabulampot Dongkrak Penjualan Pot di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tren menanam berbagai jenis tanaman hias, sayuran dan buah mendorong peningkatan penjualan media tanam buatan di Lampung Selatan. Rubani, pecinta bonsai atau seni mengerdilkan tanaman sesuai bentuk aslinya di alam, menyebutkan, saat ini pot jadi salah satu kebutuhan pokok.

Semula ia hanya memakai media tanam terbatas seperti drum, ban bekas hingga membuatnya dari semen dengan sistem cor. Padahal pot bonsai wajib memiliki kekuatan menahan beban dan akar. Terlebih tren bonsai tanaman jenis serut, pule, santigi memiliki diameter besar dan berbobot berat.

Selain bonsai Rubani juga mengaku hobi melakukan penanaman buah dalam pot (tabulampot), seperti kelengkeng, jambu jamaica, jambu madu deli Medan. Saat pandemi Covid-19 hobi tabulampot semakin meningkat, berimbas pada kebutuhan pot juga meningkat.

“Selain membeli kebutuhan pot saya juga membuat menyesuaikan bentuk bonsai yang akan dibentuk karena bisa berbentuk kotal, oval atau bentuk lain, sementara untuk tabulampot umumnya berbentuk bulat,” terang Rubani saat ditemui Cendana News, Selasa (4/8/2020).

Rubani juga menerima pesanan pembuatan pot berbahan semen dengan harga menyesuaikan ukuran, dari kecil hingga besar dijual dapat dijual seharga Rp100.000 hingga Rp1juta.

Pembuat pot, Edi Yuwono, warga Desa Ruguk menyebut tetap membutuhkan pot plastik. Namun jenis ini hanya digunakan untuk bonsai ukuran kecil. Pekerjaan tersebut memberinya penghasilan hingga puluhan juta. Menjual sebanyak 5 bonsai jenis santigi dan serut ia bisa mendapat hasil Rp16juta.

“Hasil penjualan saya gunakan untuk modal membuat pot semen dan membentuk bonsai baru,” terangnya.

Lihat juga...