Unik, Musik dari Kaset Pita di Semarang Masih Diburu

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Saat ini, teknologi digital sudah menyentuh hampir semua aspek kehidupan, termasuk di bidang musik. Namun siapa sangka, di tengah hingar bingar digital, musik kaset pita masih diminati. Meski jumlahnya terbatas, namun penggemar media penyimpan data suara yang populer hingga 2000-an tersebut tetap ada.

Peluang ini dibidik oleh Deni Kurniawan, yang melanjutkan usaha yang dirintis sang ayah. Kini, sudah ada ribuan kaset pita yang dimiliki untuk dijual.

“Ini sebenarnya antara mengkoleksi dan menjual. Sebab, ada banyak kaset pita yang saya miliki, jumlahnya sudah ribuan, bahkan mungkin sudah di atas 10 ribu kaset, saya sendiri tidak hafal. Sementara jumlah pembeli terbatas, jadi dalam sehari kadang hanya laku satu atau dua kaset. Tidak seperti dulu saat zaman jaya,” paparnya, saat ditemui di rumah usaha sekaligus tempat berjualan kaset pita, di Rumah Makan (RM) Padang Jaya Semarang, Selasa (25/8/2020).

Ya, tempatnya berjualan kaset memang menjadi satu dengan RM Padang yang juga dikelolanya. Lokasi tersebut, terletak di kawasan ruko Bubakan Semarang. Sejak awal berdiri, usaha jualan kaset pita dan rumah makan tersebut berjalan beriringan.

“Bisa dibilang, jualan kaset pita ini untuk melanjutkan usaha yang sudah dirintis ayah saya sejak 1977. Beliau masih tetap berjualan, namun karena faktor usia, lebih banyak saya yang sekarang melayani pembeli,” tambahnya.

Meskipun terbilang barang langka, harga yang dibanderol pada tiap keping kaset pita lawas di RM Padang Jaya ternyata sangat terjangkau. Hanya pada kisaran Rp18.000-Rp20.000 saja. Harga bisa kurang, jika beli dalam jumlah banyak.

Deni mengaku tidak mematok harga khusus, untuk kaset pita dari penyanyi terkenal. Semuanya diberi harga sama. Jika dianalogikan, semua kaset tersebut bisa dibilang dijual kiloan. Tidak peduli apa judul kaset tersebut, atau siapa penyanyinya.

“Saya jualan kaset pita, bukan penyanyi atau lagu apa. Jadi jualannya pukul rata, mau kaset dari penyanyi terkenal atau tidak. Harganya sama. Mungkin kalau yang jual kolektor, harganya bisa berbeda. Karena dikoleksi, kalau saya, sih tidak. Semuanya sama,” paparnya.

Di lain sisi, dirinya mengaku jika penggemar kaset pita masih cukup banyak, meski terbatas. Uniknya, rata-rata pembeli di lapak miliknya tersebut merupakan anak muda.

“Jadi kebanyakan yang beli justru anak muda, atau usia di bawah 40 tahun. Rupanya mereka ini sudah ada komunitasnya, penggemar musik tape atau kaset pita. Bahkan, saya pernah tanya, komunitas onderdil tape juga ada. Jadi, mereka bisa saling berbagi onderdil tape, satu dengan lainnya kalau tape mereka rusak,” terangnya.

Ada pengalaman menarik yang pernah dialaminya, terkait pembeli kaset pita. Waktu itu, ada seorang kakek dan cucunya yang datang untuk membeli kaset.

“Sewaktu saya tanya, mau beli kaset apa, si kakek ini justru malah bertanya ke cucu yang datang bersamanya. ‘Meh tuku kaset opo kowe mau’ (mau beli kaset apa tadi-red), dan si cucu menjawab, ‘Panbers, yang ada lagu Pilu’,” papar Deni.

Melihat hal tersebut, dirinya mengaku cukup kaget, ternyata justru si cucu yang mencari kaset pita, bukan sang kakek. Mengingat grup Panbers ini merupakan grup band yang populer di 1970-1980-an.

“Usia cucu itu baru sekitar 7-8 tahun, sudah generasi milenial, ” terangnya.

Cerita lainnya, ada pembeli berusia muda, sekitar 25 -30 tahun yang datang. Awalnya hanya melihat-lihat dan bertanya. Seminggu kemudian kembali lagi dan menanyakan kaset dari sejumlah grup band.

“Waktu itu dia tanya, bisa dicoba tidak kaset-kaset tersebut. Kebetulan tape di toko rusak, sehingga saya bilang tidak bisa. Eh, rupanya dia izin kalau mau mencoba dulu di mobil miliknya, padahal mobilnya itu Mercy. Saya juga kaget, kok bisa? Rupanya tape asli bawaan dari pabrik sudah dilepas, diganti dengan tape model kaset pita,” paparnya sembari terkekeh.

Berkaca dari berbagai pengalaman yang pernah dialaminya selama berjualan kaset pita, Deni meyakini jika kaset pita tetap ada penggemarnya.

Disinggung apakah akan mengembangkan usaha, misalnya dengan memanfaatkan toko online untuk berjualan agar jangkauan pembeli makin luas, dirinya mengaku tidak tertarik.

“Dulu awal-awal pernah mencoba jualan online, tapi tenaga dan waktunya tidak ada. Terutama jika harus mencari kaset yang diminta. Karena jumlahnya yang banyak, saya sendiri lupa, kaset yang diminta itu ditaruh sebelah mana. Jadi harus mencarinya dulu, padahal itu tidak mudah,” jelasnya lagi sambil tertawa.

Jadi, kini dirinya hanya berjualan secara offline, pembeli bisa datang langsung ke toko. Melihat-lihat koleksi yang ada. Jika tertarik bisa langsung dibayar dan dibawa pulang.

“Hampir semua jenis musik ada dan tidak hanya yang berbahasa Indonesia. Band barat juga banyak, bahkan bahasa Mandarin hingga India juga ada. Sedangkan genrenya dari dangdut, koplo, pop, keroncong, rock, sampai salawatan. Bahkan, master suara buru kicau juga ada,” tandas Deni.

Sementara, salah seorang pembeli, Hendrik, mengaku tetap tertarik untuk mengkoleksi musik kaset pita.

Menurutnya, ada keasyikan dan nostalgia tersendiri. “Masih tetap mengkoleksi. Tape juga ada di rumah, jadi tetap bisa mendengarkan lagu-lagu dari pita kaset,” terangnya.

Meski demikian,diakuinya, selain dari pita kaset, dirinya juga mendengarkan musik digital. “Kalau pita kaset ini memang terbatas, hanya lagu-lagu lama, sebab untuk lagu baru sudah beralih ke CD atau digital. Jadi tetap mengimbangi, ada plus minusnya. Namun sampai sekarang saya tetap sering mendengarkan musik dari kaset pita,” papar warga Tembalang tersebut.

Lihat juga...