Universitas Katolik Widya Karya Gelar Wisuda ‘Drive-Thru’

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Kondisi pandemi Covid-19, menuntut masing-masing perguruan tinggi untuk lebih kreatif dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan agar tetap mematuhi protokol kesehatan, termasuk dalam penyelenggaraan wisuda.

Seperti yang terlihat di Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang saat menggelar prosesi wisuda angkatan ke XXXVI yang mengkombinasikan sistem daring dan luring melalui drive-thru.

Tercatat sebanyak 18 orang perwakilan mahasiswa berprestasi mengikuti prosesi pengukuhan wisudawan daring secara drive-thru. Tidak hanya mengendarai mobil maupun kendaraan bermotor, beberapa wisudawan juga nampak mengendarai transportasi tradisional seperti andong atau dokar, becak dan sepeda.

Rektor Unika Widya Karya, Fr. Dr. Klemens Mere , SE, MPd, MH, MAP, BHK menjelaskan, pengukuhan wisuda secara drive-thru tersebut sebagai bagian dari ketaatan dan responsibility UKWK dalam rangka mengikuti protokol kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Ini strategi kami agar pelaksanaan wisuda tetap menarik bagi wisudawan meskipun dilakukan di tengah pandemi Covid-19,” jelasnya usai mengukuhkan wisudawan secara drive-thru di halaman depan kampus UKWK, Sabtu (8/8/2020).

Rektor Universitas Katolik Widya Karya, Fr. Dr. Klemens Mere, menjelaskan terkait pelaksanaan wisuda drive-thru di halaman depan UKWK, Sabtu (8/8/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Menurutnya, pandemi Covid-19 sangat luar  biasa bergejolak sehingga dilarang orang untuk berkerumun. Namun demikian, bagaimana pun juga prosesi pengukuhan wisudawan harus tetap berlangsung sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang selama ini telah menempuh perkuliahan.

“Mahasiswa harus tetap dihargai karena bagaimana pun juga ini momen yang sangat istimewa bagi mereka karena mereka tidak mungkin mengulangi momen seperti  ini lagi,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Fr. Dr. Klemens, pengukuhan wisudawan model drive-thru yang dilakukan tersebut bersifat kearifan lokal karena menyertakan transportasi tradisional andong, becak dan sepeda untuk mengangkut para wisudawan.

Tujuannya  supaya para wisudawan setelah menyelesaikan perkuliahan di perguruan tinggi, mereka tetap akan melihat kode etik kehidupan manusia sejak manusia pertama sampai manusia saat ini memasuki industri 4.0 yang dilambangkan dengan kendaraan-kendaraan tersebut.

“Pada awalnya manusia menggunakan tenaga binatang atau hewan, maka kami laksanakan dengan dokar atau andong. Kemudian ada juga sepeda, karena dulu manusia  juga menggunakan tenaganya sendiri dengan alat yang sangat tradisional. Sampai pada akhirnya sekarang manusia sudah memasuki era yang semakin canggih industri 4.0,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, tandasnya, para wisudawan diharapkan jangan sampai lengah karena saat ini semua sudah berpindah pada teknologi yang lebih canggih.

Disebutkan Fr. Dr. Klemens, jumlah wisudawan yang dikukuhkan saat ini total ada 127 orang dengan rincian 122 orang sarjana dan sisanya ahli madya 5 orang.

“Kami rencanakan ke depan akan melakukan wisuda tidak sekaligus. Jadi setiap semester kami wisuda supaya tidak menumpuk karena kuliah saat ini bukan tempat lokasinya, tapi situasi kondisinya sudah sangat terbuka di mana saja orang bisa kuliah,” ucapnya.

Sementara itu salah satu perwakilan wisudawan, Yosia Saputra Gunadi, mengaku senang dapat tetap mengikuti pengukuhan wisudawan secara luring, meskipun dilakukan dengan cara drive-thru menggunakan andong.

“Ini baru pertama kali saya alami wisuda seperti ini dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena tetap bisa dikukuhkan secara luring meskipun dengan cara drive-thru menggunakan Andong. Sementara teman-teman yang lain hanya bisa mengikuti lewat online,” akunya.

Lihat juga...