Warga Lamsel Didorong Turut Jaga Ekosistem Mangrove

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kerusakan lingkungan kawasan pesisir pantai yang terhubung dengan sejumlah aliran sungai menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDASWSS) menyebut alih fungsi lahan menjadi faktor kerusakan vegetasi mangrove.

Jenis mangrove yang dominan tumbuh di pesisir dekat muara sungai meliputi bakau (Rhizopora apiculata),  api api (Avicennia), pulut pulut (Candelia candel). Berbagai jenis vegetasi pelengkap seperti nipah, palem dan berbagai jenis tanaman tepi sungai. Koordinasi dengan kelompok tani hutan, nelayan dan warga kawasan pesisir dilakukan BPDAS untuk menjaga vegetasi pantai tersebut.

Tim survei disebutnya telah melakukan pendataan sejumlah wilayah yang masih memiliki vegetasi mangrove terjaga. Sejumlah wilayah yang didatangi dominan merupakan wilayah dengan potensi muara sungai meliputi Pegantungan, Tanjung Tuha, Pulau Kandang Balak, Pulau Rimau Balak, Tridharmayoga, Ruguk, Ketapang, Merak Belantung hingga Pulau Sebuku.

“Tahap awal tim kami tengah melakukan identifikasi lokasi dan vegetasi dominan pada satu wilayah karena mangrove memiliki habitat yang berbeda menentukan jenisnya,selanjutnya tim akan bekerja sama dengan masyarakat di kawasan tersebut,” terang Idi Bantara saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (26/8/2020).

Berbagai jenis tanaman mangrove yang nyaris punah di antaranya sentigi (Pemphis acidula). Meski kerap diburu untuk bahan bonsai upaya konservasi masih bisa dilakukan. Melibatkan unsur masyarakat ia berharap pecinta bonsai sentigi bisa melakukan konservasi bibit. Konsep rehabilitasi kawasan pesisir dan DAS sejumlah sungai terhubung dengan laut akan mendorong kelestarian mangrove.

Idi Bantara (kiri) Kepala BPDAS Way Seputih Way Sekampung saat meninjau kondisi Pantai Cukuh Perak, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan beberapa waktu lalu. -Foto: Dok. CDN

Sejumlah warga yang tinggal di dekat kawasan muara sungai menurutnya bisa ikut melakukan konservasi. Identifikasi wilayah yang masih dikelola masyarakat terus dilakukan untuk keberlanjutan konservasi mangrove. Identifikasi kewilayahan dilakukan tim BPDAS untuk menentukan jenis tanaman yang cocok.

“Kawasan pantai berpasir cocok untuk pandan dan cemara, kawasan berlumpur jenis bakau bakau, api api dan pulut pulut semua harus diidentifikasi,” tegasnya.

Manfaat menjaga ekosistem muara sungai dan pesisir menurutnya bernilai ekologis. Bagi keberlangsungan satwa dan biota di pesisir keberadaan tanaman mangrove bisa menjadi habitat alami. Warga sekitar pesisir juga bisa mendapatkan hasil ekonomis dengan pengolahan buah mangrove, kerajinan dan lokasi tambat perahu nelayan.

Komarudin, salah satu tim identifikasi BPDAS menyebut sejumlah wilayah di Lamsel masih memiliki vegetasi mangrove yang baik. Sejumlah wilayah yang masih memiliki vegetasi mangrove dominan dikelola oleh kelompok tani hutan secara swadaya. Sebagian wilayah vegetasi mangrove berada pada kawasan area tambak udang tradisional dan intensif milik perusahaan.

“Kami lakukan identifikasi untuk wilayah yang dikelola kelompok dan masyarakat sehingga bisa dilakukan konservasi berkelanjutan,”beber Komarudin.

Wilayah yang masih memiliki vegetasi mangrove menurutnya perlu dijaga. Kerusakan oleh abrasi gelombang laut, angin bisa diatasi dengan penanaman ulang bibit baru. Penyediaan bibit bisa dilakukan swadaya oleh masyarakat dan bersumber dari persemaian permanen milik BPDASWSS.

Vegetasi mangrove yang tetap terjaga di sebagian muara sungai akan memberi dampak positif bagi nelayan.

Sutiyo, nelayan dan pemilik tambak udang vaname di Pegantungan, Bakauheni menyebut mangrove sangat bermanfaat. Keberadaan mangrove di muara sungai berpotensi untuk menyaring air laut secara alami sebelum masuk kanal. Air akan disalurkan ke tambak udang sebagai sumber pengairan utama. Tanpa mangrove air laut yang kerap tercemar bisa mengurangi kualitas budidaya udang.

Lihat juga...