Warga Lembang Lestarikan Tradisi Ruwatan Bumi Geger Bintang

BANDUNG — Puluhan warga Kampung Gunung Putri, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat menggelar tradisi ruwatan Bumi Geger Bintang yang digelar di puncak Gunung Putri, Kamis.

Dalam gelaran itu, puluhan warga membawa seekor kambing serta sesaji lainnya seperti nasi tumpeng untuk menghormati leluhur kampung tersebut, termasuk sosok legenda mitos Dayang Sumbi dan Sangkuriang.

Salah seorang tokoh masyarakat, Adi Sutriatna mengatakan gelaran itu dilestarikan setiap tahunnya pada bulan Muharram. Selain menghormati leluhur, menurut dia tradisi turun temurun itu juga dipercaya dapat menjadi tolak bala masyarakat sekitar.

“Ruwatan ini rutin digelar setiap tahunnya, ini juga jadi adat yang harus dilestarikan oleh kami keturunan para leluhur terdahulu,” kata Adi saat ditemui di Gunung Putri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tradisi untuk menolak bala itu juga bukan hanya kepercayaan semata, pasalnya Adi menceritakan sekitar 50 tahun lalu di gunung itu pernah terjadi retakan tanah sepanjang 50 meter yang mengancam terjadinya bencana longsor ke pemukiman sekitar.

Menurut Adi setelah tradisi ruwatan itu digelar pada 50 lalu itu, para leluhur di kampungnya menceritakan bahwa retakan tanah itu hilang, atau kembali menyatu.

“Akhirnya sesepuh menggelar syukuran dan mengubur kepala kambing yang ditumbalkan di tanah terbelah itu. Percaya atau tidak, tanahnya langsung rapat lagi,” kata dia.

Sementara itu, Asisten Perhutani KPH Bandung Utara, Susanto mengatakan meskipun tradisi itu digelar di kawasan bukit di bawah naungan Perhutani, pihaknya tetap mendukung masyarakat menggelar tradisi tersebut.

Dikatakannya pihak Perhutani juga tetap menjaga pelestarian tradisi masyarakat di sekitar Gunung Putri. Selain itu, menurutnya tradisi itu juga bisa menjadi potensi daya tarik wisata di Gunung Putri.

“Sebelum kami mengelola objek wisata Gunung Putri ini, masyarakat sudah menggelar tradisi ruwatan ini. Jadi kita tetap mendukung selama ini kegiatan positif,” kata Susanto.

Terkait cerita retakan tanah itu, Susanto mengatakan pihaknya belum memiliki catatan lampau atas fenomena itu. Sejauh ini, ia menilai cerita leluhur itu juga harus tetap dilestarikan.

“Catatannya memang tidak ada, itu cerita dari masyarakat sekitar sini saja, tapi sebagai pengelola, kami perlu menghormati tradisi maupun cerita masyarakat tersebut,” katanya. (Ant)

Lihat juga...