Wisata Alam Kebumen Jadi Andalan di Tengah Pandemi Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Wakil Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto di Kebumen, Minggu (30/8/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

KEBUMEN — Wisata alam menjadi destinasi wisata favorit di tengah pandemi Covid-19. Pengunjung bisa melepas kejenuhan sambil menikmati kesejukan alam dan yang terpenting jauh dari kerumunan serta tetap menerapkan protokol kesehatan.

Melihat banyaknya animo wisata alam, Kabupaten Kebumen menawarkan wisata baru, yaitu Watu Jali. Objek wisata yang berlokasi di Desa Somagede, Kecamatan Sempor ini mengandalkan keindahan hutan pinus yang asri dan sejuk.

Wakil Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto mengatakan, objek wisata Watu Jati letaknya sangat strategis karena berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Sehingga wisatawan dari Banjarnegara juga berjarak cukup dekat.

“Wisata alam menjadi pilihan favorit, karena selain sehat, pengunjung juga merasa lebih aman. Karena itu, di era new normal ini, wisata alam mengalami perkembangan cukup pesat, di tengah kejenuhan orang yang sudah lama stay at home,” katanya, Minggu (30/8/2020).

Wabup yang sempat mengunjungi objek wisata Watu Jali saat pembukaan pertama awal bulan Agustus lalu mengatakan, potensi untuk berkembang sangat terbuka. Watu Jali mempunyai konsep wisata alam dengan mendirikan puluhan saung di tengah hutan pinus. Sehingga wisatawan bisa menikmati kopi ataupun makan siang di saung tengah hutan pinus.

Keberadaan Watu Jali diharapkan mampu mendongkrak pertumbukan ekonomi warga sekitar.

Hanya saja, akses jalan masih menjadi hambatan untuk pengembangan objek wisata tersebut. Kepala Desa Somagede, Samsi mengatakan, akses jalan menuju lokasi merupakan jalan penghubung antardesa, sehingga belum begitu lebar. Lokasi Watu Jali berada di jalan yang
menghubungkan Desa Somagede Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen dengan Desa Kalitengah Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara.

Keluhan tentang infrastruktur jalan menuju objek wisata juga disampaikan Ketua Pokdarwis Kebumen, Tofik Hidayat. Menurutnya, selain akses jalan yang sempit, beberapa jalan menuju tempat wisata juga dalam kondisi rusak.

“Sejak pertengahan bulan Maret, objek wisata lumbuh dan sekarang setelah diperbolehkan beroperasi kembali, kami mengharap ada perhatian dari pemkab, terutama terkait akses jalan ke lokasi wisata. Ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan,” tuturnya.

Wakil Bupati Kebumen mengakui jika kondisi jalan banyak yang rusak, bahkan sampai 50 persen lebih. Secara bertahap akan dilakukan perbaikan, namun disesuaikan dengan kemampuan anggaran.

“Sembari menunggu perbaikan jalan, promosi wisata bisa tetap dilakukan dan lebih dimaksimalkan promosi melalaui media sosial, karena jangkauan medsos sangat luas dan sudah terbukti efektif untuk memviralkan suatu objek wisata,” pesannya.

Lihat juga...