Wisata Bahari di Lamsel Kembali Beroperasi, Untungkan Produsen Suvenir

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Peluang usaha bagi sejumlah warga di kawasan destinasi wisata bahari jadi sumber penghasilan.  Supadi, warga di Dusun Minangruah, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut melihat peluang penjualan suvenir.

Sebagai wilayah yang dikenal dengan destinasi wisata bahari kunjungan wisatawan ramai setiap akhir pekan.

Sebelumnya selama tiga bulan terakhir saat pandemi Covid-19 destinasi wisata bahari sempat ditutup. Waktu tersebut digunakan olehnya untuk berburu barang bekas berupa kulit kerang. Jenis kulit kerang mudah ditemukan pada kawasan Pantai Cina Kawi, Pantai Green Canyon, Batu Menyan hingga Batu Alif. Dikombinasikan dengan semen, pernis, cat kulit kerang disulap jadi berbagai jenis hiasan.

Hiasan kulit kerang menurut Supadi menyesuaikan bentuk. Sebab ia kerap menemukan kulit kerang berbentuk terompet, kerucut hingga oval. Kulit kerang selanjutnya dibentuk menjadi suvenir berbentuk asbak,hiasan meja dan barang unik lainnya. Berbagai jenis kulit kerang dibentuk menjadi lampu hias menarik penghias ruangan.

“Saya pernah ikut pelatihan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Lampung ternyata banyak peluang usaha kerajinan yang bisa menghasilkan uang memanfaatkan kulit kerang yang tidak terpakai, sebagian belajar dari Youtube untuk dibuat menjadi suvenir,” terang Supadi saat ditemui Cendana News, Minggu (9/8/2020).

Pembuatan suvenir kulit kerang tersebut menurut Supadi memanfaatkan waktu luang yang dimilikinya. Hasil pembuatan selanjutnya dipajang pada rumahnya yang berada di akses jalan masuk destinasi wisata bahari Pantai Minangruah. Sebagian wisatawan membeli kerajinan miliknya mulai dari harga Rp30.000 hingga Rp100.000. Bentuk yang unik dan fungsional dari kerajinan kerang banyak dipilih wisatawan.

Supadi, warga Dusun Minangruah, Desa Kelawi,Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan membuat kerajinan berbahan kulit kerang untuk asbak dan hiasan meja yang dijadikan suvenir pada objek wisata Pantai Minangruah, Minggu (9/8/2020). -Foto Henk Widi

Supadi menyebut permintaan paling dominan berupa asbak. Sebab dengan bentuk yang unik asbak kulit kerang bisa difungsikan sebagai tempat sementara meletakkan puntung rokok. Sebagian kulit kerang yang dijadikan hiasan dikombinasikan sebagai tutup lampu meja kamar. Kreativitas terus dilakukan olehnya untuk menarik minat pengunjung.

“Bentuk kerang yang memiliki warna putih, cokelat sudah cukup unik namun kerap dipernis atau dicat agar lebih awet,” terang Supadi.

Supadi menyebut kerajinan kulit kerang akan terus diproduksinya seiring bergeliatnya sektor wisata bahari. Sebab penjualan aksesoris menjadi salah satu daya tarik sebuah objek wisata. Selain kerajinan kerang di pantai Minangruah juga telah dijual suvenir kaos,topi,sal ciri khas pantai tersebut. Suvenir sekaligus menjadi pengingat wisatawan telah berkunjung ke pantai tersebut.

Pembuat suvenir lain bernama Solehan menyebut ia memiliki spesifikasi kerajinan dari akar dan kayu. Seni menghias akar kayu dan kayu yang telah mati diperolehnya setelah mengunjungi objek wisata di Banten. Jenis akar yang kerap digunakan meliputi kayu jati, kayu bakau, kayu waru dan kayu jenis lain yang terdampar di pantai.

“Berbagai jenis kayu tersebut saya bersihkan lalu dibuat menjadi hiasan,tempat lampu kamar,” cetusnya.

Dihias memakai pernis membuat hasil kerajinannya terlihat menarik dan indah. Semula melakukan pekerjaan tersebut secara swadaya semakin didukung oleh Dinas Pariwisata. Berbagai hasil kerajinan yang bisa dibuat menjadi suvenir tersebut dijual mulai Rp50.000 hingga Rp150.000. Peminat merupakan wisatawan yang berkunjung sekaligus mencari oleh oleh dari objek wisata pantai.

Sempat terhenti selama tiga bulan imbas pandemi Covid-19 ia menyebut masa kenormalan baru berdampak bagi usahanya. Dibukanya objek wisata bahari membuat kerajinan miliknya bisa terjual. Meski hasil yang diperoleh masih terbatas namun Solehan menyebut ia puas karena hasil karyanya disukai wisatawan.

Saiman Alex, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Minangruah Bahari menyebut destinasi wisata sangat didukung oleh pelaku usaha pendukung. Sebagai objek wisata Pantai Minangruah yang dikelola Pokdarwis telah memiliki atraksi keindahan pantai, aksebilitas jalan yang memadai, amenitas berupa tempat penginapan, homestay dan juga masyarakat yang telah mendapat edukasi tentang kepariwisataan.

“Sebagian warga pemilik homestay,pembuat kerajinan tangan,pemilij usaha kuliner,pemandu wisata hingga balawista atau penjaga pantai telah mendapat pelatihan,” paparnya.

Peran serta sejumlah pembuat suvenir menurutnya sangat penting. Sebab ciri khas sebuah pantai bisa dikenang dari suvenir yang dihasilkan. Pelatihan sapta pesona wisata diantaranya aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan selalu ditekankan. Pembuatan suvenir sekaligus jadi kenangan wisatawan dan bisa meningkatkan ekonomi warga di objek wisata.

Lihat juga...