113 RW di Bekasi Diberikan Intensif untuk Perkuat Siaga Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Sebanyak 113 Rukun Warga (RW) di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat hingga tiga bulan kedepan akan mendapatkan intensif sebesar Rp1 juta/bulan. Kegiatan tersebut dibebankan melalui APBD Kota Bekasi.

Intensif dimaksud dalam rangka membantu RW Siaga melakukan sosialisasi seperti spanduknisasi, di lingkungan masing-masing dalam bentuk peringatan massif tentang bahaya Covid-19 menimbang RW sebagai ujung tombak wilayah.

“Intensif bagi RW sebesar Rp1 juta sudah disetujui dalam KUA PPAS perubahan. Mulai berlaku Oktober hingga Desember 2020. Hal tersebut merupakan usulan dewan dan menjadi atensi Wali Kota Bekasi,” ungkap Chairuman J Putro, Ketua DPRD Kota Bekasi usai Paripurna KUA PPAS, Kamis (17/9/2020).

Dikatakan sebelumnya usulan tersebut telah disampaikan DPRD Kota Bekasi dalam rangka mendorong ketersediaan anggaran untuk menunjang program RW Siaga.

Karena dewan beranggapan kontestasi yang dicanangkan Wali Kota Bekasi berakhir pada maret mendatang terkait kontestasi RW Siaga jenjang waktu terlalu lama. Sementara saat ini RW sebagai ujung tombak menekan angka Covid-19 sudah mendesak.

Menurutnya intensif tersebut dalam rangka memperkuat peran RW siaga. Meskipun kecil, paparnya, tapi bisa untuk membantu penguatan sosialisasi di lingkungan melalui banner bertuliskan kawasan wajib masker atau lainnya dalam rangka pengendalian penyebaran Covid-19

Chairoman berpandangan kian masyarakat sadar pentingnya mengikuti protokol kesehatan maka makin bagus. Karena sampai saat ini, hanya upaya tersebut yang bisa dilakukan dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Ia juga menegaskan bahwa dewan juga terus melakukan memantau dan melakukan evaluasi terkait dampak pembagian masker gratis oleh pemerintah kepada warga sebagai bentuk sosialisasi mencegah penyebaran Covid-19 guna membangun kesadaran masyarakat.

“Sampai saat ini kami pandang gencarnya sosialisasi lebih penting dibanding dengan Sanksi kepada warga yang tidak menggunakan masker. Dengan massifnya peringatan di berbagai sudut wilayah makin semarak makin bagus. Karena peringatan terkadang harus dilakukan berulang ulang,” tukasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi menegaskan sampai saat ini pemerintah belum memutuskan sanksi terkait masker. Bang Pepen sapaan akrabnya, beranggapan sanksi dalam penggunaan masker itu sendiri adalah keputusan terakhir.

“Saat ini, berbagai ajakan melalui imbauan dan lainnya masih dalam batas toleran. Memberi sanksi kepada masyarakat tujuannya untuk efek jera. Bicara sanksi dalam persoalan masyarakat yang sedang mendapatkan musibah, tidak baik,”ujarnya

Karena sebagai penyelenggara tentunya kami juga khwatir atas kesehatan sendiri. Apalagi
masyarakatnya, artinya jika sama-sama khawatir mari mengikuti adaptasi. Virus Corona dikendalikan, ekonominya tetap dibangun.

“Itu keinginan kita supaya pemerintah ini bisa bergerak kalau tidak ada penghasilan masyarakatnya sakit, takut, bagaimana membiayai pembangunan. bagaimana membiayai operasional pemerintah. Jadi cara pandangnya seperti itu,” tukasnya.

Saat ini Kota Bekasi imbuhnya dalam melakukan pengendalian Covid-19 menerapkan PSBB secara mirko dengan karantina wilayah melalui RW siaga yang dianggap lebih efektif.

Hal tersebut berdasarkan pengalaman pada Mei lalu ketika Kota Bekasi terjun bebas dalam angka reproduksinya. Saat itu dalam menekan angka tersebut pemerintah menekan angka reproduksi dengan karantina wilayah di tingkat RW. Hal itu tidak putus terus dilakukan sampai sekarang.

“Dan saat ini tentu kita (pemerintah) kendalikan lagi. Karena daerah seperti Jakarta, Depok, Bogor, yang lain masih merah Kota Bekasi sekarang orange,” pungkasnya.

Lihat juga...