5.962 KK di Cilacap Kesulitan Air Bersih

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

CILACAP – Sampai dengan akhir bulan September ini, sebanyak 5.962 kepala keluarga (KK) atau 19.825 jiwa warga Kabupaten Cilacap mulai mengalami krisis air bersih. Mereka tersebar pada 9 kecamatan dan 15 desa di Cilacap.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy Wijayanto, mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan air bersih hingga 24 tangki ke desa-desa tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy Wijayanto, dijumpai di kantornya, Rabu (30/9/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Yang paling banyak kita kirim adalah Desa Penyarang, Kecamatan Sidareja, sudah 4 kali kita lakukan droping air bersih, karena desa ini lebih awal mengalami kesulitan air bersih,” jelasnya, Rabu (30/9/2020).

Lebih lanjut Tri Komara mengatakan, 9 kecamatan yang mulai terdampak kekeringan yaitu Kecamatan Adipala, Gandrungmangu, Kawunganten, Karangpucung, Jeruklegi, Patimuan, Sidareja, Bantarsari serta Kecamatan Wanareja.

Untuk Kecamatan Adipala, baru satu desa yang krisis air bersih yaitu Desa Adireja dan sudah dilakukan droping air satu kali oleh BPBD Cilacap. Sementara yang terbanyak di Kecamatan Patimuan yaitu ada tiga desa, Desa Cimrutu, Sidamukti dan Rawaapu. Dan untuk kecamatan lainnya rata-rata ada 1-2 desa yang mulai krisis air bersih.

BPBD Cilacap sendiri menyiapkan 500 tangki air bersih untuk menghadapi kemarau tahun ini. Dan sampai akhir bulan September ini sudah terdistribusikan 24 tangki air bersih. Berdasarkan pengalaman kemarau tahun lalu, kebutuhan droping air mencapai dua kali lipat yaitu hingga 1.000 tangki.

Padahal, lanjutnya, setiap tahun wilayah yang terdampak kekeringan cenderung meningkat. Tahun 2018 misalnya, wilayah yang terdampak kekeringan di Cilacap ada 48 desa yang tersebar pada 17 kecamatan. Dan pada kemarau tahun 2019, jumlah warga terdampak kekeringan meningkat menjadi 65 desa yang tersebar pada 18 kecamatan.

Bertambahnya desa yang mengalami krisis air bersih selama musim kemarau ini, karena berbagai faktor. Antara lain karena minimnya daerah resapan air, terjadinya alih fungsi lahan ataupun adanya kerusakan-kerusakan pada wilayah hulu sungai. Semua itu menyebabkan sumber air bersih berkurang.

“Jika melihat tren peningkatan wilayah yang terdampak kekeringan setiap tahunnya, maka ketersediaan droping air juga harus bertambah,” katanya.

Mengingat selama pandemi Covid-19 ini seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengalami pemangkasan anggaran, termasuk BPBD Cilacap, maka untuk memenuhi kebutuhan droping air, BPBD menggandeng beberapa pihak swasta.

“Sudah ada beberapa pelaku usaha yang siap membantu droping air jika dibutuhkan sewaktu-waktu,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga Kecamatan Wanareja, Daryanto mengatakan, kekeringan sudah sangat terasa di daerahnya. Debit air sumur warga sudah banyak yang menurun, termasuk air sungai.

“Kita sudah terbiasa mengalami kekeringan, jadi sekarang warga sudah mulai berhemat air dan sungai juga sudah mulai dilakukan pembersihan untuk persiapan stok air di musim kemarau,” tuturnya.

Lihat juga...