69 Orang Nelayan Indonesia Terdampar dan Terkatung-Katung di Port Blair India

Ilustrasi - Nelayan membongkar muat ikan hasil tangkapan di Pelabuhan Samudera Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (22/9/2018) – Foto Ant

BANDA ACEH – International Colective of Fish Worker (ICFW), lembaga internasional yang fokus terhadap nelayan menyatakan, terdapat 69 orang nelayan Indonesia, masih terdampar di Port Blair, India. Para nelayan tersebut telah menjalani hukuman di negara tersebut.

Anggota ICSF India, Sabastian, menyampaikan informasi terkantung-kantungnya nelayan asal Aceh dan Sumatera Utara yang tidak bisa pulang tersebut, ke anggota ICSF Indonesia M Adli Abdullah, pada Minggu (6/9/2020). “Saya baru mendapat kabar secara elektronik dari sesama anggota ICSF, yang menyebutkan saat ini terdapat 61 nelayan Aceh dan delapan dari sumatra utara berada di Port Lair India, tidak bisa pulang, situasinya mengkhawatirkan,” kata Adli, di Banda Aceh, Minggu (6/9/2020).

Atas informasi itu, Adli meminta, Pemerintah Aceh dan DPR Aceh segera mengambil sikap, dalam upaya memfasilitasi proses pemulangan puluhan nelayan kecil asal Tanah Rencong tersebut. “Ini persoalan kemanusiaan, saya didatangi oleh para keluarga korban, sebagai anggota ICSF, kabar ini telah kami teruskan kepada kementerian dan lembaga-lembaga nelayan di Aceh dan nasional,” tandasnya.

Adli menyebut, hal tersebut harus diadvokasi, agar para nelayan Aceh yang sudah lama terdampar di India tersebut dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Informasi yang diterima Adli menyebut, ke-69 orang nelayan tradisional Indonesia tersebut terdampar di Andaman Nicobar. Mereka terkatung-katung di Port Blair, atau ibu kota Andaman.

Dalam surat elektronik Sabastian disebutkan, dia sempat berjumpa dengan Zubir Amir, nelayan asal Sumatera Utara dan Dahrul bin Zakaria asal Bireuen. Kedua nelayan itu memberitahukan kepada Sabastian, ada 69 nelayan kecil yang telah selesai menjalani hukuman, dan sedang menunggu proses pemulangan.

Para nelayan tersebut membutuhkan bantuan untuk pulang, karena posisinya terkatung-katung tidak memiliki kepastian untuk pulang kembali ke Tanah Air. “Kami butuh kepedulian, kami rindu dengan keluarga di Aceh, kami berharap pemerintah Aceh dapat membantu kami,” ujar Adli, membaca isi pesan nelayan Aceh yang dikirim Sabastian melalui surat elektronik. (Ant)

Lihat juga...