Akses Obat ARV Sulit, Stok Menipis di Bekasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Focal Point, Jaringan Indonesia Positif (JIP), Festika Rosani, menyuarakan keluhan komunitas pengidap HIV terkait menipisnya persediaan obat ARV bagi orang dengan HIV di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Selain stok menipis, susahnya akses untuk mendapatkan obat ARV juga menjadi keluhan tersendiri bagi Komunitas orang denhan HIV di wilayah setempat. Hal tersebut sudah berlangsung selama pandemi Covid-19.

“Saya hanya menyampaikan kekhawatiran dari komunitas orang dengan HIV di Kota Bekasi. Mereka khawatir dilanda kegelisahan akan kelangsungan hidup mereka,”ujar Festika Rosani, dikonfirmasi Cendana News, Jumat (11/9/2020).

Diakuinya obat baru datang tiga hari lalu melalui Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Tapi, belum diketahui jumlahnya, apakah akan mencukupi dengan jumlah orang dalam HIV di Kota Bekasi.

Menurutnya sesuai data ada 2000-an jumlah Orang Dalam HIV di Kota Bekasi yang sudah mendapatkan akses obat ARV setiap bulannya. Namun total jumlah keseluruhan sesuai data mencapai 5000 orang dengan HIV.

“Artinya meskipun stok tiga hari sudah datang dari Provinsi Jawa Barat, masih ada tiga ribuan lagi, yang belum mendapatkan akses obat ARV. Lalu mereka sisanya yang harus mendapatkan pengobatan bagaimana,” tandasnya.

Dia mengisahkan bahwa selama stok menipis komunitas orang dalam HIV harusnya mendapat satu botol untuk satu bulan jadi berkurang. Stok yang mereka dapatkan hanya cukup lima harian.

Penipisan stok akhirnya stok yang lain dibagi harus satu orang mendapat satu botol untuk satu bulan tapi mereka dapatnya hanya beberapa hari lima hari. Hingga akhirnya obat diganti tetapi beda merek.

“Obat ARV itu dari Kemenkes, turun di Provinsi, kemudian Dinkes Kota Bekasi mengajukan untuk mendapat ARV ada petugas khusus. Tapi sepertinya beberapa bulan terakhir petugasnya diperbantukan dalam penanganan Covid-19. Tapi infonya sudah ditarik lagi,”tukasnya.

Dia berharap Dinas Kesehatan Kota Bekasi, bisa mencari solusi agar komunitas orang dengan HIV bisa mendapatkan obat ARV dengan mudah. Karena menipisnya stok ARV bukan karena kosong tetapi keterlambatan dari petugas sendiri untuk mengambil di Provinsi Jabar.

“Menipisnya stok ARV dan susahnya akses untuk mendapat kan terjadi sejak Maret. Sebelum Maret memang sudah sedikit kacau tapi Covid-19 menambah kacau stok obat ARV di Kota Bekasi mulai tidak stabil,” tegasnya

Dia mengingatkan bahwa orang dengan HIV harus mengkonsumsi obat rutin setiap hari, jika obat itu tidak dikonsumsi, maka HIV didalam akan reaktif dan memiliki resiko besar.

Lihat juga...