Alih Fungsi Lahan di Lamsel Kesampingkan Kelestarian Lingkungan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Alih fungsi lahan kehutanan register menjadi hutan produksi ikut mengubah fungsi menjaga lingkungan. Perbukitan di kawasan register 1 Way Pisang yang semula memiliki berbagai tanaman keras berubah jadi lahan pertanian.

Lukman, petani di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut hutan kayu berubah jadi lahan tanaman jagung. Perbukitan yang dipenuhi pepohonan berubah gersang. Sejak tahun 1990 hingga 2020 ia menyebut sejumlah tanaman endemik hilang.

Jenis tanaman merbau, bayur, medang, laban, gandri, gayam, bendo tinggal kenangan. Sungai Way Pisang yang mengalir deras bahkan saat kemarau mulai berkurang debitnya. Ia dan warga memilih melakukan alih fungsi lahan untuk kebutuhan ekonomi.

“Sebagian warga merupakan petani penggarap yang tidak memiliki hak mutlak atas tanah karena milik Kementerian Kehutanan, cara terbaik dengan mengolahnya dan menanami tanaman cepat panen dan menghasilkan uang dengan mengesampingkan kelestarian lingkungan,” terang Lukman saat ditemui Cendana News, Rabu (16/9/2020).

Akar sejumlah pohon endemik kawasan register 1 masih bisa dilihat pada sela-sela kebun sawit dan jagung. Sebagian telah dimusnahkan dengan cara dibakar. Alih fungsi lahan beriringan dengan kebutuhan ekonomi, kebutuhan perumahan didukung pertambahan penduduk.

Kawasan tanah register 1 Way Pisang masuk di wilayah Kecamatan Penengahan, Ketapang, Palas dan Sragi. Kebutuhan akan lahan pertanian membuat berbagai jenis pohon kayu keras tidak produktif dimusnahkan. Beberapa diantaranya menjadi penyerap air saat penghujan.

“Tingkat kesuburan perbukitan telah berkurang, harus selalu dipupuk karena sebagian telah tergerus menyisakan tanah padas,” bebernya.

Lukman, petani di Desa Karangsari, ditemui Rabu (16/9/2020). -Foto Henk Widi

Tetap bisa mendapatkan hasil buah sawit dilakukan pemupukan kimia. Penebangan kayu keras untuk budidaya kelapa sawit menurutnya jadi pilihan. Sebab menanam sawit dalam jangka enam tahun sudah produktif. Sebagian petani memilih menanam pohon jati ambon, sengon, jati putih dan karet.

Perubahan berbagai tanaman tersebut telah mendorong longsor. Imbasnya danau yang semula pada tahun 1990-an masih menghasilkan air mengalami sedimentasi parah. Kini danau kecil yang dikenal dengan Pergiwo berubah menjadi genangan air kecil ditumbuhi rumput liar.

“Padahal dahulu Danau Pergiwo bisa digunakan sebagai sumber pengairan, tempat minum ternak, kini kering,” cetusnya.

Hanya sejumlah lahan yang dekat perkampungan di Desa Gandri, Desa Kelaten masih digunakan untuk menanam kayu keras. Ratusan hektare lainnya digunakan untuk menanam jagung dan tanaman semusim. Tanaman cepat panen menghasilkan secara ekonomis jadi pilihan bagi petani.

Suwardi, petani di Desa Kelaten menyebut tanaman kayu keras dipertahankan pada lahan di dekat sungai Way Pisang. Sisanya lahan dialihfungsikan menjadi tempat menanam jagung, pisang, kelapa sawit. Lahan miring yang tetap ditanami kayu keras sebagian bertujuan untuk bahan bangunan.

“Saya masih menjaga tanaman kayu bayur, jati, medang untuk bahan bangunan dan usianya telah puluhan tahun,” beber Suwardi.

Sejumlah tanaman di lahan miring menurutnya terawat karena pasokan air terjaga. Berada di daerah aliran sungai (DAS) Way Pisang membuat tanaman bambu, aren, gondang masih bertahan. Sisanya telah ditebang untuk bahan bakar dan bahan bangunan.

Suwardi menyebut upaya Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) mereboisasi kawasan register 1 Way Pisang cukup sulit. Sebab sebagian warga penggarap sudah masuk generasi ketiga hingga keempat. Kebutuhan akan tanah untuk tempat tinggal, bercocok tanam membuat warga enggan menanam kayu keras.

“Lebih baik menanam komoditas pertanian yang cepat panen dan menghasilkan uang,” cetusnya.

Langkah terbaik dilakukan dengan proses penanaman tumpang sari. Jenis tanaman yang digunakan menurutnya berupa kayu produktif penghasil buah. Jengkol, petai, durian, nangka, mangga dan avokad. Namun tanaman yang lama menghasilkan mulai ditinggalkan masyarakat untuk diganti dengan sawit, karet.

Pendekatan kepada masyarakat untuk merehabilitasi tanah register perlu dilakukan. Komarudin, warga Desa Rawi pemilik pembibitan tanaman kayu menyebut KLHK telah menyediakan pusat pembibitan permanen. Ia juga telah menyediakan sekitar 500ribu lebih bibit tanaman berbagai jenis.

“Saat ini perlu dipilih tanaman produktif cepat menghasilkan,masyarakat enggan menanam pohon kayu yang lama panen,” bebernya.

Jenis tanaman yang digunakan untuk alih fungsi lahan menurut Komarudin kurang tepat. Sebab sebagian masyarakat menanam pohon yang tidak menyerap air. Imbasnya saat penghujan tanah tergerus,sumber air hilang dan saat kemarau kawasan register 1 Way Pisang kering kerontang.

Benteng terakhir menjaga pasokan air disebutnya adalah hutan lindung Gunung Rajabasa. Masuk pada kawasan register 3, sebagian lahan penyangga dikelola masyarakat.

Pengelolaan oleh masyarakat dilakukan dengan memanfaatkan lahan miring. Tanpa ada penebangan pohon masyarakat mendapat hasil. Tanaman pada kawasan penyangga hutan dipilih pohon produktif. Komarudin menyebut menyediakan bibit sengon, jengkol, damar, keluwek hingga petai.

Semua jenis tanaman tersebut menurutnya bisa dipanen tanpa ditebang. Langkah tersebut cukup efektif menjaga pasokan air dan menahan longsor. Meski alih fungsi lahan dilakukan, kesadaran masyarakat memilih tanaman tepat akan mempertahankan fungsi ekologis.

Lihat juga...