Aplikasi Teknologi Ozon Tingkatkan Masa Simpan Hasil Pertanian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Over supply pasokan sayur mayur seperti kol, wortel, sawi hingga cabai, imbas dari panen raya, menjadikan harga jual komoditas tersebut turun drastis. Persoalan tersebut bisa terselesaikan, jika pola tanam diatur, hingga pemanfaatan teknologi untuk mengawetkan beragam sayur mayur tersebut, hingga tidak kelebihan suplai.

Peneliti Undip, sekaligus pencipta d’ozone, Prof Dr Muhammad Nur DEA, saat ditemui di kampus Tembalang, Semarang, Senin (28/9/2020). Foto Arixc Ardana

Salah satunya, menggunakan generator ozon karya Center For Plasma Research (CPR) Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip, berupa alat untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayur memanfaatkan teknologi ozon.

“Kita sudah memperkenalkan inovasi mesin d’ozone sejak tahun 2017 lalu, untuk mengawetkan berbagai hasil produk pertanian. Teknologi ini, mampu mempertahankan kesegaran, misalnya sayur mayur seperti kol, cabai, tomat, hingga buah-buahan, sampai tiga bulan. Teknologi ini juga aman, tanpa efek samping,” papar peneliti Undip, Prof Dr Muhammad Nur DEA, saat ditemui di kampus Tembalang, Semarang, Senin (28/9/2020).

Dirinya pun mendorong agar pemerintah daerah, bisa membantu para kelompok tani, dengan memanfaatkan generator ozon tersebut.

“Masa simpan sayur mayur, bisa terbilang sangat pendek karena mudah membusuk. Paling lama seminggu, kualitas sudah menurun. Akibatnya, ketika panen raya, hasil melimpah, permintaan tidak bertambah, berbagai sayur mayur tersebut tidak terserap pasar, sehingga harga anjlok. Tentu ini sangat berdampak kepada petani,” terangnya.

Dijelaskan, teknologi ozon mampu menghilangkan jamur, bakteri kapang, bahkan sisa-sisa pestisida yang terdapat pada sayur dan buah, sehingga usia sayur dan buah pasca panen akan lebih panjang.

“Jadi ketika terjadi over suplai, komoditas tersebut dapat disimpan dahulu, sehingga harga pasar tidak turun,” tandasnya.

Tidak hanya itu, aplikasi teknologi ozon pada hasil pertanian juga mampu meluruhkan logam berat yang menempel pada permukaan atau kulit sayuran dan buah-buahan, sehingga aman dikonsumsi bagi kesehatan.

Nur menjelaskan, dilengkapi dengan enam reaktor, alat tersebut mampu menghasilkan ozon sebesar 300-500 gram/jam. Selain itu, juga mempunyai tangki pelarut ozon dengan kapasitas 800 liter.

“Cara penggunaan generator ozon juga cukup mudah. Jadi, ozon yang terbentuk berupa gas, dilarutkan dalam tangki pelarut yang berisi air. Selanjutnya, air yang mengandung ozon digunakan untuk mencuci sayuran dan buah-buahan hingga steril. Dalam proses ini, tanpa menghilangkan warna, aroma, juga tidak memberikan efek pada kerusakan senyawa penting yang dikandung dalam sayuran dan buah-buahan,” jelas mantan Dekan FSM Undip tersebut.

Dengan demikian, didapatkan sayuran dan buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi, sekaligus dapat mempertahankan kesegaran dan dapat memperpanjang umur simpan.

“Pengawetan dengan ozon ini aman, karena kandungan ozon itu sendiri akan hilang dengan cara penguapan. Ozon juga akan mengurai kembali, menjadi molekul oksigen, jika terkena sinar matahari,” tegasnya.

Dijelaskan, sejauh ini sudah banyak kelompok tani atau pun pemerintah daerah,yang bekerjasama dalam pemanfaatan teknologi ozon tersebut. “Kita berharap teknologi mampu menjadi solusi, terkait masa simpan hasil pertanian sehingga produk yang dihasilkan bisa tetap segar, hingga bernilai jual tinggi,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinperindag Jateng Arif Sambodo memaparkan, pemanfaatan teknologi generator ozon tersebut, sudah diterapkan di sejumlah kelompok tani di Jateng. Salah satunya, di Kabupaten Magelang, untuk komoditas cabai.

“Kita sudah memanfaatkan teknologi ozon ini, termasuk di Kabupaten Magelang untuk komoditas cabai, namun memang jumlahnya masih terbatas. Belum semua wilayah memiliki. Sementara sentra penghasil sayur mayur di Jateng cukup banyak, untuk itu kita dorong peran serta pemerintah daerah juga, untuk ikut membantu,” terangnya.

Sejauh ini, lanjutnya, dengan teknologi ozon tersebut, masa simpan cabai memang menjadi lebih panjang dan tetap terjaga kesegarannya.

“Kalau kemarin-kemarin harga komoditas cabai dan sayuran turun harga, ya karena belum semua kelompok tani menerapkan penyimpanan hasil panen, termasuk pola tanam. Kita akan bekerjasama dengan dinas terkait, untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...