Azerbaijan Ancam Armenia Karena Terus Serang Permukiman Sipil

BAKU — Azerbaijan mengeluarkan peringatan terakhir pada Senin untuk Armenia, yang terus menyerang pemukiman sipil.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kota Terter di Azerbaijan telah diserang oleh pasukan Armenia sejak pagi ini.

“Kementerian Pertahanan memberikan peringatan terakhir kepada Armenia bahwa tindakan pembalasan yang memadai akan diambil terhadap mereka jika diperlukan,” kata kementerian itu.

Kementerian juga membagikan rekaman udara yang menggambarkan penghancuran tank Armenia dan kendaraan lapis baja selama bentrokan tersebut.

Bentrokan di perbatasan meletus Minggu pagi (27/9) setelah pasukan Armenia menargetkan permukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer di wilayah itu, yang juga dikenal sebagai Karabakh Atas.

Sebuah tim dari Anadolu Agency Turki pada Minggu berada di garis tembak selama serangan lintas batas oleh tentara Armenia di Azerbaijan.

Reporter Anadolu Agency pergi ke daerah perbatasan pada dini hari untuk memantau serangan terhadap pemukiman sipil Azerbaijan.

Dua pesawat tanpa awak terlihat di dekat desa Kapanli tempat para wartawan bekerja.

Tak lama kemudian, tentara Armenia menembakkan mortir yang mendarat dalam radius 100 meter dari stasiun kerja wartawan.

Tim tersebut juga memiliki reporter dari TRT, saluran berita yang dikelola pemerintah Turki.

Para wartawan yang menyelamatkan diri ke belakang kendaraan lolos dari serangan sepersekian detik. Di tengah hujan peluru, tim masuk ke dalam kendaraan dan melarikan diri dari lokasi kejadian.

Sebelumnya pada Juli, pelanggaran gencatan senjata Armenia menewaskan 12 tentara Azerbaijan dan melukai empat lainnya.

Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Empat resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB serta banyak organisasi internasional menuntut penarikan pasukan pendudukan.

OSCE Minsk Group, yang diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan AS, dibentuk pada tahun 1992 untuk menemukan solusi damai atas konflik tersebut, tetapi tidak berhasil. Gencatan senjata, bagaimanapun, disepakati pada 1994.

Prancis, Rusia, Amerika Serikat, NATO, dan PBB telah mendesak penghentian segera bentrokan di wilayah pendudukan. [Ant]

Lihat juga...