Bambu Miliki Sumbangsih pada Lingkungan dan Dukung Ekonomi Warga Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Selain memiliki sumbangsih pada lingkungan,tanaman bambu hingga saat ini masih dipertahankan masyarakat Lampung Selatan (Lamsel) karena memberikan dampak ekonomi.

Hasan, salah satu petani menyebut jenis bambu hitam, tali, petung dan ori masih bisa ditemukan pada daerah aliran sungai Way Pisang. Ketahanan rumpun tanaman kala kemarau untuk penahan erosi.

Pemanfaatan untuk keberlanjutan lingkungan hidup juga memiliki nilai ekonomis. Pesanan batang bambu yang dipanen berasal dari petani dan nelayan. Bagi petani dimanfaatkan untuk ajir tanaman melon, pare, cabai, tomat. Bagi nelayan dimanfaatkan sebagai bahan bagan, perahu, alat penjemuran, cekeng perebusan ikan.

“Menanam bambu memiliki manfaat yang sangat menguntungkan bagi pemilik dan menjaga keseimbangan lingkungan karena menahan erosi, menyerap air sekaligus menjadi habitat alami berbagai jenis burung, saat kemarau menjaga udara tetap sejuk,” terang Hasan saat ditemui Cendana News, Rabu (23/9/2020).

Sebagai alternatif pengganti kayu, Hasan menyebut dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bambu diminta terus dikembangkan.

Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari bambu menurutnya terus dilakukan olehnya. Sistem pemanenan dengan cara yang benar menghasilkan bambu berukuran seragam. Ukuran besar kerap diminta untuk bambu belah yang dipergunakan untuk para para atau senoko alat penjemuran ikan asin.

“Hasil panen bisa dijual kepada petani atau nelayan untuk mendukung ekonomi sektor kelautan dan pertanian,”cetusnya.

Hasan menyebut harga bambu bisa mencapai Rp4.000 perbatang. Menjual sebanyak seratus batang ia bisa mendapat hasil ratusan ribu. Pemanenan bisa dilakukan untuk memperbanyak tunas. Semakin sering dipanen dengan proses penebangan rumpun akan tumbuh dengan baik.

Jumadi, nelayan pengrajin ikan asin menyebut kebutuhan bambu sangat penting. Sebab tanaman tersebut bisa digunakan sebagai bahan bangunan untuk lokasi perebusan ikan teri, cumi dan berbagai jenis ikan yang diawetkan. Berbagai jenis ikan yang diawetkan menurutnya harus direbus memakai cekeng.

“Pengrajin ikan asin menggunakan bambu karena lebih murah untuk cekeng, penjemuran saat rusak limbahnya mudah diurai,” cetusnya.

Penggunaan bambu diakuinya telah digunakan puluhan tahun bagi nelayan. Perahu tangkap jenis ketinting dan bagan apung memakai bahan bambu lebih mudah diperbaiki dengan tingkat keawetan lebih lama. Selama setahun Jumadi menyebut mengganti berbagai peralatan dua hingga tiga kali sehingga lebih efesien.

Lahan pertanian cabai merah memanfaatkan bambu tali sebagai ajir di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Rabu (23/9/2020). Foto: Henk Widi

Kegunaan bambu dimanfaatkan oleh Sutarjo di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi. Setelah diolah menjadi ajir atau penopang mendukung proses penanaman cabai keriting agar tidak roboh.

“Bambu jadi salah satu penyokong untuk usaha pertanian karena lebih murah, meski saat ini ajir dari besi banyak dijual toko pertanian,” terang Sutarjo.

Lihat juga...