Banyumas Lakukan Swab Test Random di 190 Pesantren

Editor: Koko Triarko

Bupati Banyumas, Achmad Husein, di rumah dinasnya, Jumat (25/9/2020) petang. -Foto: Hermiana E. Effendi

PURWOKERTO – Munculnya kluster pondok pesantren yang menyumbang angka terbesar untuk kasus positif Covid-19 di Banyumas, disikapi dengan melakukan swab test random kepada 190 pondok pesantren yang ada di wilayah kabupaten tersebut.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengatakan setiap pondok pesantren akan diambil sampel 10 santri untuk dilakukan swab test. Jika hasilnya negatif, maka swab test di pondok tersebut selesai. Namun jika ditemukan ada yang positif, maka seluruh santri dan penghuni pondok pesantren akan dilakukan swab test.

“Jadi, nanti tim yang kita bentuk untuk menangani kluster pondok pesantren akan berkeliling dan melakukan swab test terhadap 10 santri pada tiap-tiap pondok. Sehingga dibutuhkan swab test sebanyak 1.900,” kata Bupati di rumah dinasnya, Jumat (25/9/2020) petang.

Tim ini terdiri dari gabungan personel Pemkab Banyumas, Satpol PP, Polresta Banyumas, Kodim 0701/Banyumas serta dari tokoh agama. Tim juga bertugas melakukan sosialisasi serta pengawasan penerapan protokol kesehatan di pondok-pondok.

Menurut Husein, untuk melakukan swab test random diperlukan sosialisasi terlebih dahulu, karena tidak semua orang bersedia diswab.

“Yang menolak swab test dengan berbagai alasan masih ada, karena itu kita bentuk tim kecil untuk melakukan sosialisasi,” terangnya.

Dan untuk hari ini, sudah selesai dilakukan swab test terhadap 334 orang santri dan pengurus pondok pesantren yang terdapat kasus positif Covid-19.

Untuk yang positif, nantinya akan dilakukan isolasi sampai dinyatakan sembuh, minimal sampai dua kali swab test dan dinyatakan negatif. Setelah itu, penghuni pendok pesantren yang dari luar Banyumas, diminta untuk pulang terlebih dahulu ke kampung halaman masing-masing.

“Kluster pondok pesantren ini memang cukup banyak, namun berada dalam satu kluster yang terkonsentrasi, sehingga memudahkan dalam upaya penangannya,” kata Husein.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengatakan, dari kasus positif kluster pondok pesantren, di antaranya ada satu balita berusia 1 tahun yang merupakan anak dari salah satu pengasuh pondok. Balita tersebut saat ini masih tetap berada di pondok, karena harus dekat dengan orang tuanya.

“Dari kluster pondok pesantren menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, seperti RS Siaga Medika dan lainnya. Namun ada dua yang tetap berada di pondok, karena masih usia 1 tahun dan yang satunya merupakan orang tua balita tersebut,” jelasnya.

Untuk beberapa pengasuh pondok pesantren, termasuk kalangan kiai juga sudah dilakukan swab test hari ini. Sejauh ini kondisi mereka sehat, meskipun sudah banyak yang lanjut usia.

Lihat juga...