Basmi Virus dengan Teknologi Plasma ‘Corona Discharge’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Virus bakteri hingga jamur dapat bertahan hidup di udara dalam kurun waktu tertentu. Jika mikroorganisme tersebut terhirup saat kita bernafas, bisa mengakibatkan penyebaran beragam penyakit. Mulai dari flu, batuk hingga Covid-19.

“Terlebih udara di dalam ruangan, karena sirkulasi tidak baik, bisa jadi udara tersebut kotor mengandung partikel debu, bakteri, virus dan jamur. Jika ini terhisap, saat kita bernafas, terlebih ketika imun tubuh kita sedang turun, badan sedang tidak bugar, maka hal tersebut berpotensi akan menimbulkan penyakit,” papar guru besar Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip, Prof. Dr. Muhammad Nur DEA, saat ditemui di Laboratorium Teaching Industry, kampus Undip Tembalang, Semarang, Jumat (18/9/2020).

Berangkat dari kondisi tersebut, terlebih saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19, pihaknya menciptakan inovasi Zeta Green, berupa alat penjernih udara atau penghasil udara segar (air purifier) dengan teknologi teknologi plasma corona discharge.

Pekerja di Laboratorium Teaching Industry tengah bekerja dalam proses pembuatan Zeta Green dijumpai di kampus Undip Tembalang, Semarang, Jumat (18/9/2020). Foto: Arixc Ardana

Alat tersebut diklaim, mampu membunuh virus, bakteri dan jamur, kemudian mengubahnya menjadi udara segar dan sehat. Selain itu alat ini juga mampu mengurai udara kotor, asap rokok, bau tidak sedap, serta debu.

“Kita gunakan teknologi plasma, seperti diketahui plasma merupakan zat keempat setelah zat padat, zat cair dan gas. Cara kerjanya, secara sederhana bisa dijelaskan, udara kotor atau dalam ruangan, disedot kemudian dengan teknologi plasma corona discharge, udara tersebut dimurnikan, baru kemudian dikeluarkan kembali, berupa oksigen dan uap air. Jadi udara juga lebih segar,” terang guru besar bidang Fisika tersebut.

Dipaparkan, dari pengujian yang sudah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Undip, alat tersebut terbukti mampu menurunkan jumlah virus, bakteri dan jamur dengan signifikan.

“Dari hasil uji coba, dalam ruangan berukuran 6 meter x 5 meter x 3 meter, atau 90 meter kubik, dalam kurun waktu satu jam, mikroorganisme tersebut bisa mati semua. Termasuk virus, semua mati saat dipapar teknologi plasma,” tandasnya.

Prof. Nur menjelaskan, untuk meningkatkan daya hisap udara, pihaknya juga sudah meningkatkan kapasitas kipas penarik udara, hingga bentuk desain Zeta Green.

“Tujuannya agar udara kotor yang terhisap bisa semakin banyak, namun pada prinsipnya cara kerja tidak berubah,” tandas peneliti di bidang teknologi plasma tersebut.

Pihaknya juga mendorong agar inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tersebut, dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Melalui PT. Dipo Technology, Zeta Green sudah dilakukan hilirisasi hingga proses produksi.

“Sejauh ini, sudah banyak lembaga, instansi, perkantoran, yang memanfaatkan Zeta Green untuk membantu, menjernihkan udara di ruangan. Harapannya, dengan alat ini, kita juga bisa terlindungi dari paparan bahaya penyakit, yang diakibatkan mikro organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur,” terangnya.

Terpisah, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, menuturkan sebagai universitas riset, pihaknya harus ambil bagian dalam tri dharma perguruan tinggi. Termasuk dalam menangani lonjakan kasus pandemi Covid-19, tindakan preventif perlu dilakukan oleh berbagai pihak.

“Kita berharap dengan penelitian dan inovasi yang dilakukan oleh para dosen atau peneliti Undip, bisa turut membantu persoalan yang dihadapi masyarakat. Termasuk dalam penanganan Covid-19,” terangnya.

Dijelaskan, selain inovasi Zeta Green, pihaknya juga memperkenalkan robot medis yang akan digunakan di rumah sakit, hingga robot yang digunakan di pos pelayanan publik.

“Kesemuanya ini menjadi bentuk komitmen Undip, dalam dukungan penelitian dan pengembangan teknologi untuk penanganan dan menekan laju pertambahan kasus Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...