BI: Perkonomian Global – Nasional Mulai Bergerak Positif

Editor: Koko Triarko

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam jumpa pers virtual beberapa waktu lalu. –Dok: CDN

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, perekonomian global secara bertahap mulai membaik. Perkembangan ini terutama didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat, meskipun kinerja perekonomian Eropa, Jepang, dan India belum begitu kuat.

“Perkembangan positif di Tiongkok dan AS sejalan dengan melandainya penyebaran Covid-19 yang mendorong meningkatnya mobilitas masyarakat global ke level ekuilibrium normal baru, dan dampak stimulus moneter dan fiskal yang cukup besar,” ujar Perry dalam siaran pers tertulisnya, Minggu (20/9/2020).

Sejumlah indikator dini pada Agustus 2020, mengindikasikan prospek positif pemulihan ekonomi global, seperti meningkatnya mobilitas, berlanjutnya ekspansi PMI manufaktur dan jasa di AS dan Tiongkok, serta naiknya beberapa indikator konsumsi.

“Perekonomian global yang membaik mendorong kenaikan volume perdagangan dunia dan harga komoditas global di semester II 2020, yang berpotensi lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya. Berlanjutnya peningkatan ekspor di berbagai negara dan indeks kontainer logistik global, mengindikasikan perbaikan aktivitas perdagangan dunia pada triwulan III 2020,” tandas Perry.

Sementara itu khusus untuk pasar keuangan global, sambung Perry, masih diselimuti ketidakpastian yang tinggi, antara lain dipengaruhi isu geopolitik Tiongkok-AS, Tiongkok-India, dan di Inggris.

“Perkembangan ini berpengaruh terhadap menurunnya aliran modal ke negara berkembang, kecuali Tiongkok, dan berdampak pada berlanjutnya tekanan terhadap mata uang di berbagai negara tersebut, termasuk Indonesia,” tukasnya.

Sejalan dengan perekonomian global, Perry mengungkapkan, perekonomian domestik nasional secara perlahan juga membaik, meskipun masih terbatas sejalan mobilitas masyarakat yang melandai pada Agustus 2020.

Kinerja ekspor mulai membaik sejalan kenaikan permintaan global, khususnya dari AS dan Tiongkok, untuk beberapa komoditas seperti besi dan baja, pulp dan waste paper, serta CPO.

“Konsumsi rumah tangga juga sudah membaik secara terbatas, seiring berlanjutnya stimulus fiskal seperti penyaluran bansos dan pemberian gaji ke-13 kepada Aparatur Sipil Negara (ASN). Beberapa indikator dini menunjukkan perbaikan, seperti penjualan retail, indeks kepercayaan konsumen, dan PMI manufaktur,” ungkap Perry.

Secara spasial, perbaikan ekonomi tercatat di beberapa daerah luar Jawa yang memiliki ekspor komoditas. Ke depan, prospek berlanjutnya pemulihan ekonomi domestik banyak dipengaruhi perkembangan mobilitas masyarakat, sejalan dengan penerapan protokol Covid-19 di sejumlah daerah, kecepatan realisasi anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kemajuan restrukturisasi dan penjaminan kredit, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital, khususnya untuk pemberdayaan UMKM.

“Bank Indonesia melalui bauran kebijakannya akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait, agar berbagai kebijakan yang ditempuh makin efektif mendorong pemulihan ekonomi,” pungkas Perry.

Lihat juga...