Bisnis Mesin Perontok Padi Raup Untung Menggiurkan

Redaktur: Satmoko Budi Santodo

LAMPUNG – Suwanda, operator mesin perontok padi atau dos, menyatakan penggunaan alat mesin dos dipilih petani untuk mempercepat proses panen. 

Menurut Suwanda, warga asal Kecamatan Palas yang juga ahli melakukan perbaikan mesin dos, jika digunakan mesin dos biasanya  dioperasikan sejak pagi. Mesin tersebut bahkan terpaksa diinapkan pada lokasi sawah karena permintaan yang cukup banyak.  Masa tanam serentak membuat masa panen bisa bersamaan. Usai menyelesaikan satu lahan, mesin akan berpindah ke lahan milik petani lain.

Suwanda, operator mesin dos menyiapkan alat yang akan dipergunakan untuk merontokkan padi, Selasa (29/9/2020) – Foto: Henk Widi

“Setelah jerami ditumpuk, selanjutnya akan dimasukkan dalam alat dos agar bulir padi terpisah. Lalu akan diulang dua kali untuk membersihkan bagian merang, daun yang masih terbawa,” terang Suwanda, saat ditemui Cendana News, Selasa (29/9/2020).

Mesin dos dijalankan dengan menggunakan tenaga diesel untuk menggerakkan perontok padi. Total sebanyak 40 pekerja akan dikerahkan untuk melakukan proses panen. Puluhan orang akan bertugas memangkas batang padi. Berbeda dengan sistem manual, batang padi akan dipotong lalu ditumpuk.

Pergerakan mesin yang cepat ungkap Suwanda, harus diiringi dengan kecepatan proses pemotongan batang padi. Sebelum mesin dihidupkan tumpukan batang padi bahkan telah disiapkan agar perontokan berlangsung cepat. Sebagian pekerja akan bertugas mengumpulkan gabah kering panen (GKP) yang telah dirontokkan.

Proses pemanenan, perontokan hingga gabah masuk karung, butuh waktu satu jam atau lebih cepat sesuai luasan lahan. Dalam satu hamparan lahan pekerja kerap melakukan pemanenan mulai dari luas seperempat hingga dua hektare. Semakin luas lahan yang dipanen butuh waktu lebih lama untuk proses perontokan.

“Usaha mesin dos telah berjalan selama dua tahun, menciptakan lapangan kerja bagi warga, dan membantu petani mempercepat panen,” terang Suwanda.

Memakai mesin membuat proses perontokan lebih sempurna, tanpa tertinggal bulir padi pada batang jerami. Jasa penyediaan mesin dos memperhitungkan jumlah gabah yang dihasilkan. Sistem bagi hasil jika mendapat sebanyak 10 karung maka 1 karung jadi hak pemilik mesin, dan 9 karung jadi hak pemilik lahan.

Suwarna, pemilik mesin dos di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut, modal awal ia harus membeli mesin dari wilayah Indramayu, Jawa Barat. Pemesanan hanya bagian alat sementara mesin dijual terpisah. Bagian alat dibeli seharga Rp12 juta, mesin seharga Rp6 juta dan peralatan lain sehingga total modal awal mencapai Rp20 juta.

“Modal awal untuk membeli alat selanjutnya pekerja dan juga bahan bakar akan disiapkan saat mendapat order,” cetusnya.

Order panen padi menurut Suwarna dalam satu kali musim panen berasal dari ratusan pemilik lahan sawah. Total satu musim panen ia bisa memanen lebih dari seratus hektare lahan sawah. Sebanyak 100 ton lebih milik petani bisa dipanen menggunakan mesin dengan bagi hasil bisa mencapai 10 ton. Semakin banyak hasil panen ia akan mendapat bagian lebih banyak.

Bagi pekerja, Suwarna menyebut, akan mendapatkan hasil dari proses penjualan gabah. Rata-rata jika dihitung sistem kerja harian para pekerja bisa mendapatkan upah sekitar Rp75.000 bahkan bisa lebih. Selain mendapat upah ia menanggung makan dan minum bahkan memberikan tempat tinggal sementara.

“Keberadaan mesin dos tentunya menjadi sumber pekerjaan bagi warga yang tidak memiliki sawah,” terang Suwarna.

Dalam sekali proses panen, Suwarna menyebut, bisa mendapat omzet menggiurkan hingga puluhan juta. Saat proses panen mendapat hasil 10 ton dengan harga jual gabah Rp400 ribu per kuintal, ia bisa mendapat hasil Rp40 juta. Hasil tersebut selanjutnya akan dihitung untuk biaya operasional mesin, bahan bakar, konsumsi dan upah pekerja. Dari usaha mesin dos ia bisa membantu petani dan pekerja.

Sebagian hasil usaha tersebut, Suwarna juga mengaku, menyiapkan cadangan uang untuk perbaikan. Sebab dalam satu kali musim panen mesin dioperasikan ratusan kali. Kerusakan alat akan diperbaiki untuk memperlancar usaha. Selanjutnya ia akan melakukan pembelian mesin dos baru untuk mempermudah melayani permintaan.

“Keberadaan mesin dos bisa membantu pemanenan serentak dan petani bisa lebih cepat menjual gabah hasil panen,” cetusnya.

Subroto, salah satu pemilik lahan sawah di Desa Pasuruan menyebut, memilih memakai mesin dos. Sebelumnya proses panen menggunakan sistem manual dengan sistem ceblok. Namun karena hasil panen cenderung menurun sebagian buruh tanam ceblok mulai meninggalkan. Memilih mesin dos jadi pilihan agar bisa lebih cepat untuk pemanenan.

Subroto, memilih menggunakan jasa mesin dos untuk memanen padi miliknya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (29/9/2020) – Foto: Henk Widi

“Sistem bagi hasil sama-sama menguntungkan bagi petani dan pemilik mesin. Jadi mesin dos banyak diminati,” terang Subroto.

Menghasilkan sebanyak 3 ton gabah kering panen (GKP) ia menyebut, produksi mengalami penurunan imbas hama wereng.

Pemanenan dengan mesin dos menurutnya hanya butuh waktu selama tiga jam. Waktu panen tersebut lebih cepat karena sistem manual butuh waktu selama minimal tiga hari. Efisiensi waktu jadi pilihan baginya jika memakai mesin dos.

Lihat juga...