BKF Pastikan Indonesia Masuk Jurang Resesi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, memastikan Indonesia akan masuk ke jurang resesi, setelah proyeksi laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III Tahun 2020 makin mengerucut di level -2,9 persen hingga -1 persen.

“Resesi itu kan artinya laju pertumbuhan negatif di dua kuartal berturut-turut, jadi memang (Indonesia) sudah resesi, bahkan pelambatannya itu terasa sejak kuartal I,” ujar Febrio, dalam Media Briefing bertajuk Kupas Tuntas Ekonomi yang dihelat secara virtual, Jumat (25/9/2020).

Meski demikian, Febrio menyebut fenomena resesi merupakan hal yang wajar dalam situasi krisis seperti saat ini. Dan, Febrio mengatakan, Indonesia tidak sendiri, negara-negara lain seperti India, Filipina, Thailand, juga mengalami hal serupa.

“Memang secara global ini terjadi di mana-mana, karena sumber krisisnya sama, yaitu Covid-19, yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda membaik. Bagi Indonesia, ini resesi ke dua setelah krisis 1999-1998,” tukasnya.

Terlepas polemik resesi, Febrio menegaskan, bahwa pemerintah terus fokus dalam upaya mengakselerasi program pemulihan ekonomi nasional, sehingga harapannya, pada kuartal IV/2020 laju pertumbuhan ekonomi dapat makin baik, dan di 2021, perekonomian nasional dapat kembali normal.

“Sebetulnya program PEN ini sudah cukup membantu kita di kuartal III. Itu terlihat dari proyeksinya yang lebih baik dari kurtal II. Nah, karena itu PEN akan kita terus akselerasi, khususnya pada kluster perlindungan sosial, kesehatan, lalu ketenagakerjaan dan ketahanan pangan,” papar Febrio.

Di forum yang sama, Kepala Ekonom Danareksa, Moekti Prasetiani Soejachmoen, mengimbau agar masyarakat tetap menjaga konsumsinya. Sebab, perilaku masyarakat yang mengurangi konsumsi akan memperparah resesi.

“Tapi yang perlu diingat juga adalah resesi ini, kalau masyarakat itu mulai mengurangi konsumsinya, dengan masyarakat mengurangi konsumsi itu sebenarnya adalah mereka akan memperparah resesi itu sendiri, karena jadinya tidak ada kegiatan ekonomi di masyarakat,” imbuhnya.

Moekti menjelaskan, terjadi perubahan konsumsi pada masyarakat sejak munculnya Covid-19 di Indonesia. Masyarakat lebih memprioritaskan pengeluarannya untuk konsumsi bahan pokok, listrik, produk nutrisi dan vitamin serta paket data atau pulsa.

Sehingga, menurutnya, kunci supaya Indonesia secepatnya keluar dari resesi adalah meningkatkan konsumsi rumah tangga. Hal ini karena 56 persen perekonomian Indonesia digerakkan oleh konsumsi rumah tangga.

“Hampir 56 persen dari PDB kita itu adalah dari konsumsi rumah tangga, dan kontributornya per sektor itu adalah manufaktur 20 persen, pertanian 15 persen, dan perdagangan 13 persen,” jelasnya.

Di sisi lain, dengan penurunan konsumsi rumah tangga, akan terjadi penurunan permintaan di pasar yang pada akhirnya mengurangi produksi dan menyebabkan adanya PHK karyawan.

Lihat juga...