BPBD Jateng Masih Fokus Penanganan Musim Kemarau

Editor: Koko Triarko

Plt Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana di Semarang, Rabu (23/9/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Meski hujan sudah turun dalam beberapa hari terakhir, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah masih fokus pada penanganan musim kemarau.

“Kalau kita lihat, memang beberapa hari terkhir ini sudah turun hujan, namun saat ini kita masih fokus penanganan pada musim kemarau. Hampir 33 kabupaten kota di Jateng masih membutuhkan air bersih, meski tidak setinggi tahun lalu,” papar plt Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana di Semarang, Rabu (23/9/2020).

Dipaparkan, terkait kebutuhan air bersih, pihaknya telah menyediakan 1.100 tangki air bersih. Jumlah itu sama seperti tahun lalu.

“Sesuai prediksi, kemarau tahun ini cenderung basah. Jadi, meski masih kemarau, tapi ada kecenderungan turun hujan. Tidak seperti musim kemarau tahun lalu yang dampaknya sangat terasa di sejumlah wilayah di Jateng,” tandasnya.

Sementara di wilayah Kota Semarang, BPBD Kota Semarang memetakan ada 17 kelurahan yang masuk kategori rawan kekeringan. Empat kelurahan di antaranya menjadi fokus penanganan, yakni Rowosari, Mangunharjo, Jomblang dan Sukorejo.

“Kita telah menyiapkan 100 kendaraan tangki yang siap menyuplai air bersih, hingga akhir 2020. Satu truk tangki memiliki daya tampung kurang lebih 200 liter. Jadi, kurang lebih ada 2.000 liter air bersih yang telah dipersiapkan,” papar Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Abel Monteiro.

Dijelaskan, untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan air, pihaknya menerjunkan tim yang melakukan cek lapangan. “Dari survei itu nantinya didapatkan pemetaan daerah yang rawan kekeringan dengan intensitas tinggi, sedang maupun rendah. Jika memang dibutuhkan, kita kirim bantuan air bersih,” terangnya.

Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono, menambahkan, dari periode Juli- September 2020, pihaknya telah menyalurkan 30 tangki air bersih, masing-masing sebanyak 25 tangki di kelurahan Rowosari Tembalang dan lima tangki di Pasar Pedurungan.

“Wilayah Rowosari memang menjadi salah satu wilayah rawan kekeringan di musim kemarau. Sedangkan di Pasar Pedurungan, karena persediaan air bersih untuk kebutuhan pasar kurang,” jelasnya.

Diakuinya, permintaan bantuan air bersih oleh warga pada musim kemarau ini menurun dibanding tahun lalu. Penyebabnya karena hujan masih beberapa kali turun, sehingga musim kemarau tahun ini tidak terlalu ekstrem.

Terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko, menjelaskan hasil model peragaan menunjukkan, pada musim kemarau kali ini cenderung basah.

“Ada kecenderungan turun hujan lebih tinggi dibanding musim kemarau tahun lalu. Jadi, memang tidak terlalu ekstrem,” terangnya.

Hal tersebut disebabkan adanya perkembangan dinamika cuaca, akibat pola gangguan atmosfer di wilayah ekuator tropis, sehingga  mengakibatkan hujan masih turun di musim kemarau.

Sementara untuk saat ini, menurutnya sudah memasuki musim pancaroba. Pihaknya memprediksi musim penghujan akan segera datang.

“Saat ini sudah masuk masa perallihan dari kemarau ke penghujan. Kota Semarang diprediksi musim hujan akan dimulai pada akhir Oktober 2020,” tandasnya.

Lihat juga...