Budi Daya Teripang, Kunci Jaga Populasi di Alam

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan Perikanan, Slamet Soebjakto, mendorong untuk memperbanyak produksi teripang dari hasil budi daya untuk ekspor, guna menjaga kelanjutan populasi di Indonesia.

Dikatakan, bahwa keberapa populasi teripang di Indonesia maupun dunia kian menurun akibat ekploitasi dan penangkapan untuk keperluan industri obat-obatan.

Tingginya minat masyarakat terkait olahan teripang, membuat biota laut tersebut banyak ditangkap di alam bebas, diolah lalu dijemur.  Jika dibiarkan, maka mengancam kelanjutannya jika tidak ada upaya budi daya.

“Harus kita akui, bahwa ekspor teripang setiap tahunnya mengalami kenaikan. Kalau kita lihat di data 2012-2019, ekspor teripang naik, tetapi ini berasal dari penangkapan di alam”, sebut Slamet Soebiajakto, melalui siaran resmi, Sabtu (19/9/2020).

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan Perikanan, Slamet Soebjakto, Foto: M Amin

Menurutnya, budi daya adalah kata kunci untuk mengatasi eksploitasi. Harapannya, ke depan ekspor teripang berasal dari pembudidayaan, tentunya hal itu menjadi tantangan para pembudidaya, bagaimana memperbanyak benih-benih teripang untuk keperluan proses budi daya.

“Sejauh ini kita mengetahui, ekspor teripang dunia yang terbesar dari Indonesia. Ini luar biasa, sebagai negara tropis dan mempunyai habitatnya yang sangat memenuhi persyaratan untuk tumbuh dan bereproduksi teripang ini, sehingga produksi di alam cukup banyak”, tambah Slamet.

Dia menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pembenihan yang telah dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, membuka peluang berkembangnya budi daya teripang, khususnya jenis teripang pasir. Ini menjadi prospek yang luar biasa ke depannya untuk dikembangkan.

“Teripang harus masuk ke industri, bukan hanya di sektor hilirnya saja dalam rangka proses produksinya, tetapi bagaimana menyediakan bibit-bibit unggul dan memperbanyak teripang-teripang itu dari pembudidayaan,”ucap Slamet.

Slamet berharap, ke depan akan banyak hatchery pembenihan teripang  yang dapat dilakukan dengan model pusat larva atau larva center. Segmentasi usaha diperlukan dengan cara memperdayakan banyak orang untuk ikut terlibat sehingga secara langsung perekonomian mereka juga bertambah.

Dwi Handoko Putro, perekayasa inovasi teknologi budi daya teripang dari BBPBL Lampung, menjelaskan di BBPBL Lampung sudah merintis penelitian terkait teripang, sehingga hasil-hasil penelitian adalah kunci untuk pengembangan budi daya teripang.

“Untuk pembenihan teripang, BBPBL Lampung menggunakan metode thermal shock atau kejut suhu yang dilakukan saat bulan purnama. Nah, teknik pembenihannya sudah kita ketahui, tinggal bagaimana nantinya mengembangkan untuk memproduksi massal, perlu upaya untuk dapat mencukupi kebutuhan di skala usaha pembesaran”, kata Dwi.

Pembudidayaan teripang, imbuhnya, cukup sederhana, tidak perlu pakan buatan atau pengobatan yang begitu kompleks. Dengan laut yang begitu luas, dengan model budi daya sea ranching ini dapat dikembangkan teripang di alam sebagai penyeimbang ekosistem.

“Selain itu, teripang dapat menjadi indikator pencemaran lingkungan,” pungkasnya.

Lihat juga...