Covid-19 Diprediksi Masih Lemahkan Ekonomi Hingga Awal 2021

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan, pergerakan penyebaran Covid-19 di Tanah Air yang masih tereskalasi membuat agenda pemulihan ekonomi nasional mengalami pelambatan. Bahkan ia memprediksi, dampaknya tetap akan dirasakan hingga semester awal tahun 2021 mendatang.

“Sebetulnya semester I tahun depan kita tidak bisa mengasumsikan pemulihan yang fully power, karena Covid masih akan menjadi salah satu faktor yang menahan pemulihan, baik pada konsumsi, investasi, maupun ekonomi global,” ujar Menkeu dalam kegiatan Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR, Rabu (2/9/2020).

Adapun pada semester II, Menkeu merasa cukup optimisme, seiring dengan penemuan vaksin imunisasi massal kepada masyarakat. Pada dua kuartal terakhir 2021 itulah, Sri Mulyani menilai pemulihan ekonomi akan berjalan signifikan.

“Secara bersamaan, pada 2021 pemerintah juga akan mengakselerasi reformasi, terutama di bidang struktural untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan iklim investasi,” tandas Menkeu.

Sementara itu, Menkeu juga memprediksi pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2020 ini akan berkisar minus 1,1 persen sampai positif 0,2 persen. Proyeksi itu berdasarkan kemungkinan ekonomi Indonesia kembali terkontraksi pada kuartal III/2020.

“Kita berharap ekonomi kuartal IV/2020 akan membaik, sehingga tren pemulihan itu akan berlanjut pada 2021. Sekali lagu, kita akan sangat bergantung pada pemulihan di semester II 2020, dan ini memberikan pengaruh terhadap seberapa tinggi pemulihan di tahun 2021,” tukas Menkeu.

Sementara itu, di forum yang berbeda, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu memberi kabar gembira. Pasalnya, kondisi manufaktur Indonesia kini terus membaik dan kembali ke level positif sejak bulan Februari 2020, atau sejak wabah Covid-19.

“Perbaikan ini ditunjukkan oleh indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada bulan Agustus berada di level 50,8 atau naik dibanding posisi di bulan Juli yakni 46,9. Aktivitas manufaktur dinyatakan tumbuh positif jika nilai indeks berada di atas 50,” kata Febrio.

Lebih lanjut, Febrio menjelaskan, bahwa perbaikan aktivitas manufaktur Indonesia didukung oleh peningkatan produksi dan pesanan baru. Peningkatan pesanan baru didominasi oleh permintaan dalam negeri sementara permintaan dari ekspor masih lemah di tengah situasi pandemi yang masih eskalatif.

“Pelonggaran pembatasan sosial di dalam negeri juga telah meningkatkan kepercayaan bisnis ke level tertinggi sejak Mei 2019 dan mendorong adanya perbaikan aktivitas ekonomi secara berkala. Operasi bisnis juga terus meningkat di tengah upaya adaptasi kebiasaan baru dan pemberlakuan protokol kesehatan,” tuturnya.

Febrio pun menyatakan, bahwa perbaikan aktivitas manufaktur yang terus berlanjut ini meningkatkan optimisme pemulihan ekonomi global, meskipun berbagai risiko masih harus diwaspadai.

“Kasus Covid-19 masih berada dalam tren peningkatan di dunia dan terdapat ancaman gelombang kedua Covid-19 yang dapat menghambat aktivitas perekonomian serta membayangi proses pemulihan ekonomi ke depan”, imbuhnya.

Lihat juga...