Dampak Covid-19 Pelaku Wisata di Sikka Alih Profesi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pandemi Corona kian mewabah hingga menjelang penghujung tahun 2020 kasus pasien positif Covid-19 di beberapa wilayah di Indonesia terus mengalami peningkatan termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun Kabupaten Sikka, NTT sudah memasuki zona hijau sejak 2 bulan, ekonomi di daerah ini belum stabil sehingga banyak pelaku wisata beralih profesi untuk sekedar bisa bertahan hidup dan menghidupi keluarga.

“Terus terang sebetulnya yang betul-betul kena imbas sektor pariwisata mereka yang hanya bekerja sebagai pemandu wisata saja, tanpa ada usaha sampingan yang menopang pendapatannya,” sebut Elisia Digma Dari, pramuwisata di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (15/9/2020).

Untuk mengatasi ketiadaan pekerjaan kata Elis sapaannya, pelaku wisata pun beralih membuka usaha kecil-kecilan agar bisa bertahan hidup dan usaha ini berbeda jauh dari apa yang selama ini dikerjakan.

Ia mencontohkan ada pemandu wisata atau pramuwisata yang berjualan bensin di pinggir jalan, menjual sayuran, menjual kuliner, membuka kios serta berkebun bagi yang memiliki lahan kosong.

“Saya juga menjual sayur dan menjadi agen sayur dari BUMDes Detusoko Barat di Kabupaten Ende. Lumayan bisa mendapatkan sedikit pemasukan untuk sekedar makan dan membantu uang transportasi untuk beraktivitas di luar rumah,” ucapnya.

Saat ini pun tambah Elis, pelaku wisata di Kabupaten Sikka mulai mencoba membuka paket wisata ke destinasi wisata di Flores dengan menggaet wisatawan lokal di Kabupaten Sikka dan beberapa daerah di Pulau Flores.

Namun begitu sambungnya, usaha ini pun belum berjalan normal karena masih terkendala kasus Covid-19 di beberapa kabupaten di Pulau Flores dan NTT yang meningkat dan masih terdapat kasus positif.

“Yang terpenting bisa dapat sedikit uang saja sebab kalau mengandalkan dari sektor pariwisata tidak ada pemasukan sama sekali. Kita terpaksa banting setir bekerja apa saja yang penting bisa mendapatkan uang,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan Sonya da Gama pemilik art shop yang juga bergabung di Floressa Wisata yang mengaku berjualan aneka masakan semenjak merebaknya pandemi Corona akibat sepinya wisatawan.

Pelaku wisata dan pemilik art shop, Sonya da Gama saat ditemui di kantor Floressa di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (15/9/2020). Foto: Ebed de Rosary

Sonya akui terpaksa menutup sementara art shop miliknya karena tidak ada kunjungan wisatawan sama sekali dan lebih banyak mencoba memasarkan produknya secara online.

“Sekarang ini kita bekerja apa saja agar bisa bertahan hidup di tengah merebaknya pandemi Corona yang belum tahu kapan berakhirnya. Saya harus banting setir menjual aneka masakan dan menawarkan melalui media sosial,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News di areal kantor Floressa yang terdapat Guest House, Tourist Information Center, Kedai Kopi Floressa dan Sonya da Gama Art Shop tidak ada aktivitas wisatawan terutama wisatawan asing.

Perkantoran dan tempat usaha ini biasanya selalu dikunjungi wisatawan terutama wisatawan asing saban harinya termasuk menginap di home stay yang ada di dalam kompleks ini.

Lihat juga...