Dampak Covid-19, Pramuwisata di NTT Alih Profesi

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Para pramuwisata yang mengandalkan pendapatan dari profesi ini selama masa pandemi Covid-19 sangat terpukul karena tidak ada kunjungan wisatawan sehingga pekerjaan tour guide pun mati suri dan membuatnya harus beralih pekerjaan lain sementara waktu.

Anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang 100 persen menggantungkan hidupnya dari pramuwisata sangat terpukul karena tidak ada pendapatan sama sekali.

“Kalau ada yang juga berprofesi lain sebagai guru, dosen dan lainnya tentu tidak terlalu bermasalah. Tapi yang hanya mengandalkan pendapatan dari mengantar wisatawan pasti kehilangan pendapatan,” terang Ketua Himpunan Pramuwisata (HPI) NTT, Agustinus Manua Bataona, Sabtu (26/9/2020).

Ketua HPI NTT, Agustinus Manua Bataona saat ditemui di Maumere, Sabtu (26/9/2020). -Foto : Ebed de Rosary

Agus sapaannya mengatakan, banyak pramuwisata yang sudah banting setir melakoni pekerjaan lainnya seperti ojek, penulis, bertani dan lainnya agar bisa memperoleh pendapatan buat keluarga.

Menurutnya, banyak pramuwisata yang mengandalkan hidupnya dari pekerjaan ini saat ini kehilangan pendapatan terlebih saat normal, pertengahan tahun seharusnya memasuki musim puncak kunjungan wisatawan.

“Masa pandemi ini tidak gampang dan kami sangat menghargai dan memberi apresiasi kepada semua anggota HPI dan mitra kami yang saling membantu. Kita tidak mengeluh dan berdiam diri selama masa pandemi Covid-19,” tegasnya.

Agus menyebutkan, pramuwisata adalah unsur yang utama dalam pariwisata dan di Provinsi NTT ada 511 anggota HPI yang sudah berlisensi dan masih ada sekitar 110 anggota yang masih daftar tunggu dan lebih banyak anggota HPI ada di Kabupaten Manggarai Barat.

Ia memaparkan, dari bulan Maret sampai Juni kondisi pariwisata masih parah di mana seluruh reservasi melalui travel agent lokal semuanya membatalkan kunjungan wisata.

“Untuk wilayah Flores sendiri ada 45 ribu wisatawan asing yang membatalkan kunjungan ke Flores belum termasuk data bulan Juni sampai September yang sedang dilakukan pendataan,” terangnya.

Untuk mengatasi hal ini HPI NTT lebih banyak mengisi waktu dengan meningkatkan kompetensi, up grade pengetahuan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) anggotanya.

Agus menyebutkan, HPI bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata mengadakan pelatihan penguatan kapasitas tour guide yang sudah berlangsung di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat bulan Agustus 2020 lalu.

“Kita terus berupaya untuk memperbaiki SDM anggota termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengadakan pelatihan bagi anggota HPI,” sebutnya.

Sementara itu Ketua HPI Cabang Sikka, Arkadius Jong berkata senada di mana menurutnya banyak anggota HPI Sikka yang mencari pendapatan lain akibat mati surinya kegiatan pariwisata.

Arkadius mengatakan, akibat pandem Covid-19 banyak pramuwisata yang beralih profesi dengan menjual kayu bakar, bensin eceran, sayur, kain tenun, ojek dan lainnya di mana situasi ini yang riil terjadi.

“Kegiatan pelantikan HPI Cabang Sikka hari ini juga dananya merupakan sumbangan dari semua anggota. Ada kebersamaan sehingga semua saling menopang agar bisa bertahan menghadapi pandemi Covid-19,” ujarnya.

Lihat juga...