Dendeng Batokok Selera Masakan Rumah Khas Minang

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Bila rindu makan masakan enak di restoran, tapi tidak bisa terwujud karena adanya Covid-19, tidak perlu galau karena masakan ala restoran itu bisa dimasak di rumah. Seperti halnya kuliner dendeng batokok (dipukul) khas Minang.

Masakannya merupakan sajian makanan yang di restoran dengan harga yang terbilang cukup mahal bahkan nyaris sama dengan harga rendang. Tapi bila dendeng batokok itu disajikan di rumah bisa menghemat biaya dan bahkan rasanya paling cocok untuk keluarga dan tanpa menghilangkan cita rasa khas Minang.

Seperti yang dilakukan oleh Latifah, ibu rumah tangga di Padang, melakukan inisiatif memasak dendeng batokok di saat keluarganya rindu untuk makan bersama di restoran Padang.

Ia menjelaskan untuk membuat dendeng batokok itu tidaklah terlalu rumit karena dendeng batokok adalah masakan orang terdahulu yang dimasak secara tradisional.

“Dendeng batokok itu bisa disebut makanan tradisional jadi tidak rumit juga untuk dimasak hanya saja butuh modal yang besar karena harga daging cukup mahal,” katanya, Sabtu (26/9/2020).

Latifah, ibu rumah tangga yang berpengalaman memasak dendeng di Padang. -Foto: M. Noli Hendra/HO-Dok. Latifah

Untuk daging harganya itu capai Rp120.000 per kilogram. Untuk ukuran 1 kilogram tersebut bisa dikatakan cukup untuk makan satu keluarga, tapi tidak cukup bila dimakan di malam harinya lagi.

“Ya kalau daging 1 kilogram itu kan tidak terlalu banyak. Belum lagi nanti bakal di iris tipis-tipis dagingnya, sehingga kondisi daging jadi sedikit,” sebutnya.

Namun kalau bicara untuk cara membuatnya itu hanya memiliki bumbu-bumbu yang sederhana juga. Seperti daging sapi, cabe merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan jahe putih serta air kelapa.

Untuk membuat dendeng batokok ini hal utama yang perlu dilakukan setelah daging telah di iris tipis-tipis adalah bumbu perebusan dagingnya yakni bawang putih dan jahe putih yang telah digiling hingga halus.

“Kalau bumbu untuk daging telah siap, daging yang sudah dicampur itu direbus dengan air kelapa tua dengan waktu kurang lebih 15 menit saja atau hingga dagingnya benar-benar matang,” jelas dia.

Latifah menyebutkan sembari menunggu dagingnya matang direbus, persiapkan juga cabe merah yang sudah digiling bersama bawang merah, tapi cabe merah yang digiling itu jangan terlalu halus melainkan cukup seperti cabe merah yang diiris saja.

Nah bila daging telah selesai direbus. disini lah proses manokok alias dipukul di atas ulekan. Disarankan daging yang ditokok itu jangan terlalu tipis karena daging yang telah ditokok itu nantinya juga akan digoreng.

“Jadi setelah direbus, lalu ditokok, lanjut penggorengan. Mengingat dagingnya telah matang, jadi penggorengannya tidak terlalu lama tapi hanya sekadarnya saja,” ucap dia.

Menurutnya bila semuanya telah siap maka lakukan tahap selanjutnya dimana masih sama dengan cara memasak sambal goreng pada umumnya. Setelah itu barulah dendeng batokok siap dinikmati.

“Sebenarnya cukup simpel sih, cuma tahapannya cukup panjang serta modalnya cukup besar karena dagingnya mahal,” sebutnya.

Salah seorang pedagang rumah makan Padang, Ratna mengatakan, dendeng batokok memang merupakan salah satu masakan yang paling banyak dinikmati oleh pelanggan selain ayam. “Kalau di Padang ini masakan dari daging dan ayam adalah masakan yang populer,” katanya.

Sebut saja rendang, merupakan makanan kelas premium dengan harga satu potong daging itu bisa Rp15.000 sedangkan untuk dendeng batokok alias dendeng basah itu Rp12.000 untuk satu potongnya.

“Memang agak mahal karena daging itu sendiri yang mahal pula. Jadi mau tidak mau sambal yang terbuat dari daging mahal pula dijual,” ucapnya.

Lihat juga...