Desa Wisata Mangrove Purworejo Lampung, Sukses Kembangkan Wisata Pemberdayaan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Pengembangan destinasi wisata berbasis alam terus dilakukan masyarakat pesisir Lampung, yang memiliki sejumlah kabupaten yang berpotensi untuk pengembangan wisata alam.

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung menyebut, paduan wisata dan pelestarian lingkungan adalah program yang sangat tepat. Seperti yang dilakukan di objek wisata mangrove Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur, yang merupakan wilayah binaan BPDAS WSS, di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Pengembangan desa tersebut dikonsep menjadi pusat edukasi mangrove. Aksebilitas menuju ke lokasi tanah timbul yang menggunakan jalur sungai menjadi daya tarik bagi wisatawan. Dengan perahu, wisatawan bisa melakukan kegiatan rekreatif. Penghobi fotografi bisa melakukan aktivitas mengamati burung (bird watching), mengamati habitat sungai. Edukasi proses penanaman mangrove menjadi kegiatan atraktif yang bisa dilakukan wisatawan.

Menyusuri sungai untuk melihat hutan mangrove, salah satu atraksi andalan Desa Wisata Mangrove Purworejo – Foto Henk Widi

Menggandeng kaum milenial, Idi Bantara menyebut, wisata mangrove terus dipromosikan melalui media sosial. “Pengelolaan hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai saat ini menggugah masyarakat untuk mengkolaborasikannya dengan wisata, langkah tersebut mendukung upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir,” ungkap Idi Bantara kepada Cendana News, Minggu (27/9/2020).

Destinasi wisata mangrove Purworejo sangat mudah diakses. Untuk mencapainya cukup menaiki kendaraan pribadi melewati jalan darat melalui Jalan Lintas Timur Sumatera. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan dengan perahu yang disediakan warga. Keberadaan jajaran pohon mangrove jenis bakau (Rhizopora), Api api (Aviicenia) menghiasi perjalanan menuju tanah timbul. Aktivitas mengunjungi destinasi wisata mangrove sebutnya cocok dilakukan pagi hari. Aktivitas birds watching bisa dilakukan dengan mengamati burung bangau, itik hutan, camar dan berbagai jenis burung. “Destinasi mangrove jadi cara mengedukasi masyarakat pentingnya menjaga sabuk hijau atau green belt yang memiliki sejuta manfaat,” tandasnya.

Destinasi mangrove Purworejo, menjadi laboratorium alam untuk sejumlah penelitian. Konsep wisata berbasis konservasi akan menjaga mangrove kawasan pesisir. Dan kewajiban wisatawan untuk menanam mangrove di sejumlah titik menjadi antraksi yang menarik. Syarat wajib amenitas, atraksi dan aksebilitas objek wisata di kawasan tersebut sangat mendukung. Pemberdayaan masyarakat pada sektor pariwisata berjalan cukup bagus. Keberadaan mangrove membuka peluang pelaku usaha.

Selain menyediakan usaha kuliner, masyarakat bisa menjadi pemandu wisata, dan penyedia jasa ojek perahu. Dan kesadaran manfaat berkelanjutan mangrove, mendorong warga ikut menyiapkan bibit mangrove bagi kawasan lain. “Warga diedukasi membudidayakan mangrove dari bibit untuk dijual ke wilayah lain dan mengolah produk turunan dari pohon mangrove,” cetusnya.

Di massa pandemi Covid-19, pemberdayaan objek wisata mangrove menjadi sumber lapangan pekerjaan baru. Program stimulus ekonomi bagi masyarakat di kawasan pesisir dilakukan dengan program padat karya. Kegiatan penanaman mangrove untuk konservasi sebut, memberi upah Rp100.000 per-hari, bagi warga untuk luasan lahan puluhan hektare.

I Made Sudana, warga Desa Purworejo – Foto Henk Widi

Pengelolaan desa wisata, Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, I Wayan Suwarno menyebut, pengembangan kawasan pesisir sekaligus jadi objek rekreasi. Lahan yang digarap memiliki luas lebih kurang 60 hektare, didominasi vegetasi mangrove jenis bakau dan api api. “Objek wisata alam mangrove terus kami kembangkan untuk memaksimalkan potensi wisata pantai,” bebernya.

Sebagai desa yang dikenal bernuansa Bali dengan adat yang kental, objek wisata alam dipadukan dengan budaya dan religi. Lokasi objek wisata mangrove menjadi tempat kegiatan agama berupa ngaben, melasti dan aktivitas lain.

I Made Sudana, warga setempat menyebut, peningkatan manfaat mangrove untuk wisata sangat positif. Masyarakat secara swadaya melakukan pengelolaan pesisir yang ditumbuhi mangrove untuk pusat studi, wisata dan konservasi lingkungan. Pengembangan akan terus dilakukan untuk menambah daya tarik bagi wisatawan. Sebab objek wisata alam mangrove semakin diminati masyarakat kala pandemi.

Lihat juga...