Dilema Penambahan Subsidi Kuota Utama bagi Pelajar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Usulan penambahan jumlah kuota umum dari jumlah yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) oleh KPAI dan orang tua, ditanggapi berbeda oleh para pengajar. Kekhawatiran melencengnya tujuan penggunaan kuota, menjadi alasan.

Bukannya tidak mengapresiasi, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menyatakan kuota umum yang menurut ketentuan Kemendikbud adalah sebesar 5 GB, kemungkinan tidak cukup. Dan ini disampaikan bukannya tanpa alasan yang kuat. KPAI sudah melakukan survei pada April lalu.

“Penggunaan platform belajar lebih rendah dibandingkan penggunaan aplikasi WhatsApp, download video, searching google, dan media sosial, yang pengoperasiannya pakai kuota umum,” kata Retno, saat dihubungi Kamis (24/9/2020).

Ia mengungkapkan, berdasarkan survei PJJ siswa yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada April 2020, terungkap bahwa PJJ secara daring didominasi penugasan melalui aplikasi whatsApp, email dan media sosial lain seperti Instagram (IG).

Adapun rinciannya adalah sebesar 87,2 persen responden melakukan interaksi PJJ secara daring melalui chatting dengan aplikasi WA/ Line/ telegram/IG, sebanyak 20,2 persen menggunakan zoom meeting, 7,6 persen video call WA dan telepon hanya 5,2 persen.

“Artinya, mayoritas menggunakan aplikasi yang justru lebih membutuhkan kuota umum. Aplikasi seperti zoom meeting malah hanya digunakan para guru sebanyak 20 persen saja dari total 1700 responden siswa,” urainya.

Hasil survei PJJ siswa juga menunjukkan bahwa penugasan yang paling tidak disukai siswa adalah membuat video dan foto.

“Selain membutuhkan memori besar di gadget, juga membutuhkan kuota besar saat mengirim melalui aplikasi WA guru ataupun media sosial lainnya. Dari survei yang kami selenggarakan, penugasan mengirim video mencapai 55 persen dari 1700 responden,” ucap Retno.

Dari survei PJJ siswa yang dilakukan KPAI, juga ditemukan hanya 43,3 persen guru yang menggunakan platform. Dengan rincian, 65 persen menggunakan google classroom, 24,5 persen menggunakan platform Ruang Guru, Rumah Belajar, Zenius dan Zoom dan 10 persen menggunakan aplikasi WhatsApp.

Keinginan untuk kuota umum yang lebih besar, menurut Kepala Sekolah SMPN 52 Jakarta Heru Purnomo, juga disampaikan oleh para orang tua murid.

Kepala Sekolah SMPN 52 Jakarta, Heru Purnomo, dijumpai beberapa waktu lalu – Foto: Ranny Supusepa

“Saat dilakukan sosialisasi virtual dengan komite masing-masing kelas, ada masukan dari para orang tua murid yang menyatakan bahwa kuota umum 5 GB itu kurang,” ujarnya.

Ia menyatakan, bukannya dirinya tidak memahami hal tersebut, hanya yang menjadi pertimbangan, jika kuota umum diperbesar, malah membuka potensi kuota itu digunakan siswa bukan untuk belajar.

“Kita kan tidak bisa mengawasi secara langsung, sehingga tidak tahu apakah setelah belajar, para siswa tidak menggunakan kuota itu. Atau selama belajar, menggunakan kuota bantuan tersebut untuk membuka hal selain untuk tujuan belajar,” ucapnya.

Dan bukan mengecilkan peran orang tua juga, tapi ia menyatakan bahwa dirinya juga memahami bahwa tidak selamanya orang tua bisa mengawasi proses anak memanfaatkan kuota umum bantuan ini.

“Kan orang tua juga harus kerja WFH, yang seringkali waktunya berbarengan dengan masa belajar anak,” kata Sekjen FSGI ini memaklumi kondisi rumit akibat PSBB.

Para orangtua, lanjutnya, menyampaikan kuota umum dipergunakan untuk melakukan pencarian online bahan-bahan ajar yang mereka belum mengerti. Atau untuk mencari tugas. Sehingga membutuhkan jumlah kuota yang lebih besar.

“Dengan menyampaikan argumen bahwa kuota umum dipergunakan untuk googling, para orang tua mengajukan sebanyak 15 GB untuk kuota umum,” cerita Heru.

Salah seorang pengajar SDN di Pekanbaru, Riau, Margaretha Setiyawati menyatakan dirinya lebih menyetujui jika kuota utama tetap sesuai arahan dari Kemendikbud.

“Jika kuota umum ditambah ada kemungkinan pemakaian tidak hanya tertuju untuk pembelajaran melalui wa saja. Karena guru kan tidak bisa memantau, orang tua juga tidak bisa sepenuhnya mendampingi anak,” ucap guru muda ini.

Selain itu, dengan memanfaatkan kuota yang sudah ada, akan terbuka peluang bagi guru untuk mengembangkan sisi kreatif dalam memanfaatkan aplikasi pembelajaran.

“Karena di masa pandemi ini kan guru dituntut untuk lebih kreatif dalam memberi pembelajaran supaya peserta didik tidak jenuh belajar dari rumah. Dan bervariasi, sehingga tidak melulu melalui aplikasi wa,” ungkapnya.

Dengan mengembangkan sisi kreatif guru dalam melengkapi materi bagi para siswa, masalah keterbatasan kuota umum ini tidak akan menjadi kendala.

“Bayangkan jika kuota utama ditambah, saat selesai waktu belajar, si anak bisa buka aplikasi yang tidak diperuntukkan untuk anak-anak. Jadi lebih baik, guru didorong untuk memberikan materi dengan memanfaatkan aplikasi pembelajaran yang sudah ada. Kalau saya, menggunakan classroom,” pungkasnya.

Lihat juga...