DKI Jakarta Terapkan PSBB Ketat Lagi, Denda Operasi Yustisi Terkumpul Rp238 Juta

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana (tengah), memberikan keterangan kepada wartawan soal 25 ton beras yang akan dibagikan kepada masyarakat membutuhkan terdampak COVID-19, Ahad (20/9/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Operasi yustisi oleh jajaran Polda Metro Jaya bersama TNI, serta instansi terkait, sejak kembali diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), telah mengumpulkan Rp238.576.500 dari denda yang dikenakan kepada pelanggar protokol kesehatan.

“Sampai saat ini denda yang sudah terkumpul dari pelanggar yang diberikan sanksi itu sejumlah Rp238.576.500,” kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Nana Sudjana, Minggu (20/9/2020).

Nana menjelaskan, angka tersebut terkumpul dari penindakan yang dilakukan oleh petugas dalam kurun waktu 14-19 September 2020. Pelanggar protokol kesehatan yang dikenakan sanksi administratif berupa denda sebanyak 852 orang. Uang denda yang dikumpulkan dari para pelanggar tersebut nantinya diserahkan untuk dimasukkan ke kas negara.

Selain sanksi administratif, petugas juga memberikan pilihan sanksi kerja sosial berupa membersihkan fasilitas umum. Adapun pelanggar yang memilih sanksi sosial dalam kurun waktu 14-19 September 2020, tercatat sebanyak 17.385 orang.

Selain itu, selama periode yang sama petugas juga memberikan sanksi teguran kepada sebanyak 12.466 orang. Total pelanggar protokol kesehatan yang ditindak oleh tim gabungan dalam kurun waktu 14-19 September 2020 adalah sebanyak 30.384 pelanggar.

Satgas gabungan pengawas protokol kesehatan tidak hanya melakukan penindakan terhadap individu. Petugas juga tercatat telah menutup dua perkantoran yang kedapatan melanggar protokol kesehatan. “Selama Operasi Yustisi ini sebanyak dua perkantoran kita tutup, karena tidak mengindahkan protokol kesehatan,” kata Nana. (Baca: https://www.cendananews.com/2020/09/terjaring-razia-yustisi-protokol-kesehatan-dua-perkantoran-dan-119-restoran-di-jakarta-ditutup.html).

Nana menyebut, lebih dari seratus restoran atau rumah makan yang ditutup karena memperbolehkan masyarakat makan di tempat. Sejatinya selama PSBB, restoran atau rumah makan hanya boleh melayani pembelian secara take away atau dibawa pulang saja “Sebanyak 119 restoran atau rumah makan kita tutup karena masih menyediakan tempat kepada masyarakat untuk makan langsung di masa pandemi COVID-19 ini,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...