Domba Merino, Ras Domba Unggul Peninggalan Tapos Pak Harto 

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Tiga puluh dua tahun lebih memimpin Indonesia, tak sedikit program peninggalan Presiden Soeharto yang masih bisa dirasakan manfaatnya hingga kini. Selain pertanian, juga program bidang peternakan, Tapos, yang berhasil mengembangkan ras domba unggul Merino.

Melalui program Tapos di kawasan Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Pak Harto telah berhasil menyilangkan ribuan ternak dari luar negeri dengan ternak lokal, untuk mendapatkan ras unggul baru yang mampu beradaptasi dengan iklim di Indonesia, sekaligus memperbaiki kualitas mutu ternak di Tanah Air.

Contohnya adalah ras domba Batur (Dombat) dan domba Wonosobo (Dombos), yang merupakan hasil persilangan dari domba Dorset Merino Australia dengan domba lokal, Gibas.

Hingga saat ini, domba yang lebih populer disebut domba Merino itu, bahkan masih menjadi salah satu komoditas ternak domba unggulan yang banyak dipelihara dan dibudidayakan para peternak di seluruh Indonesia. Tidak hanya di kawasan Batur, Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Namun juga di berbagai daerah lainnya, termasuk di kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Domba Merino, ras domba unggul milik Ari Wibowo di dusun Pundong, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Senin (28/9/2020). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Salah seorang peternak domba Merino di dusun Pundong, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Ari Wibowo (39), mengaku sudah sejak beberapa tahun terakhir membudidayakan domba berbulu tebal itu di kandang ternaknya. Berbagai kelebihan yang dimiliki, menjadi pertimbangan utama Ari memilih domba Merino dibandingkan domba jenis lainnya.

“Keunggulan domba Merino ada pada ukuran tubuhnya yang lebih besar dibandingkan domba pada umumnya. Bobotnya bisa mencapai 70-80 kilogram, bahkan 100 kilogram. Tidak seperti domba lokal yang hanya berkisar antara 30-40 kilogram saja pada umur yang sama,” ujarnya, saat ditemui pada Senin (28/9/2020).

Menurut Ari, dari nilai jualnya domba Merino juga jauh lebih tinggi. Hal itu tak lepas dari bentuknya yang unik dengan bulu tebal, serta rasa dagingnya yang lebih empuk dibandingkan domba pada umumnya. Satu ekor domba Merino bisa dihargai Rp2,5 – 4,5 juta. Sementara domba lokal hanya berkisar Rp1,5-2,5 juta saja.

“Dari sisi perawatan, domba Merino juga sangat mudah. Domba ini tergolong mudah beradaptasi di cuaca apa pun. Serta tidak pilih-pilih makanan dan memiliki nafsu makan tinggi. Semua jenis makanan mau, baik itu hijauan, ramban, rumput kering, dan sebagainya,” ungkapnya.

Kelebihan lain yang juga dimiliki domba Merino adalah potensi bulunya yang bisa diolah menjadi bahan pembuat wool kualitas terbaik. Meskipun di Indonesia pemanfaatan bulu domba Merino belum cukup populer, sehingga tidak bisa maksimal.

“Kekurangan domba Merino ini tidak memiliki tanduk. Sehingga kadang kurang disukai untuk kurban. Selisih harganya bisa sekitar Rp300-400ribu dengan domba yang memiliki tanduk. Sehingga sekarang ada yang menyilangkan domba Merino dengan domba Garut. Sehingga, menghasilkan domba berbadan besar dengan bulu tebal, dan memiliki tanduk,” katanya.

Ari sendiri menilai, keberadaan ras unggul domba Merino di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran penting Presiden Soeharto melalui Tapos. Ia menyebut hal itu sebagai pondasi awal kebijakan pemerintah jangka panjang di bidang peternakan semasa Orde Baru, yang sangat bermanfaat bagi masyarakat saat ini.

“Ibaratnya, Pak Harto yang dulu sudah menanamkan pondasi, kita sekarang tinggal memanfaatkan dan mengembangkannya saja. Kalau saat itu Pak Harto tidak menjalankan program Tapos, belum tentu ada domba Merino seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Lihat juga...