Ekonom Indef: RAPBN 2021 tak Fokus Kesehatan Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didin S. Damhuri menyayangkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanda Negara (RAPBN) 2021 tidak ada blue print yang fokus dalam penanganan pandemi Covid-19. Malah anggaran kesehatan justru diturunkan menjadi Rp 25,4 triliun.

Padahal menurutnya, dengan pemerintah menaikkan anggaran kesehatan dalam RAPBN 2021, ini justru akan dapat meningkatkan demand side.

“RAPBN 2021 tidak kokoh, karena desain pendekatan tidak jelas, tidak lagi demand side, supplay side juga tidak. Anehnya anggaran kesehatan diturunkan,” ujar Didin  pada diskusi webinar Indef bertajuk “Menguji Target Pembangunan RAPBN 2021′ di Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Padahal menurut dia, sangatlah jelas Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan fokus kepada kesehatan. Namun dalam RAPBN 2021 anggaran kesehatan malah turun menjadi Rp 25,4 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 87,55 triliun pada 2020.

“Anggaran kesehatan turun dari Rp 86,55 triliun menjadi Rp 25,4 triliun. Apa artinya itu diturunkan?,” tukas Didin.

Tentu dengan anggaran sebesar itu, tambah dia, program pemberian vaksin Covid-19 gratis yang akan diberikan kepada 270 juta jiwa pada enam bulan di tahun mendatang tidak akan bisa dilaksanakan.

“Kalau fokus pada kesehatan, harus ada vaksin massal yang rencana akan dimulai Januari-Juni 2021. Selama 6 bulan itu tentu harus ada anggaran besar,” imbuhnya

Namun sayangnya, sebut dia, para pengambil keputusan kebijakan seringkali berpendapat bahwa untuk menyelamatkan jiwa itu mahal.

“Padahal biaya untuk kesehatan itu adalah untuk menyelamatkan jiwa rakyat, pelaku ekonomi, tim kesehatan dan lainnya. Jadi, kalau mau fokus, justru anggaran Rp 87,55 triliun itu harus ditingkatkan bukan malah diturunkan,” pungkasnya.

Lihat juga...