Faktor Alam dan Manusia Percepat Abrasi Vegetasi Pesisir Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kerusakan lingkungan vegetasi pantai di Lampung Selatan (Lamsel) didominasi faktor alam seperti gelombang pasang angin Selatan dan Timur. Dampaknya tanaman vegetasi pesisir alami kerusakan dengan tumbangnya bagian akar, pohon, bahkan kerusakan terjadi dalam kurun belasan tahun.

Wayan Sutejo, warga pesisir pantai Onaria di Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang menyebutkan, yang rusak merupakan tanaman alami di pantai tersebut. Meliputi ketapang laut (Terminalia catappa), waru laut (Thespesia populnea),cemara laut (Casuarina equisetifolia), bakau (Rhizopora apiculata) dan vegetasi laut lain.

Selain faktor alam, alih fungsi lahan pesisir pantai untuk pertambakan, reklamasi juga ikut memiliki andil. Pada sepanjang pesisir pantai Ketapang reklamasi untuk jeti tambatan kapal tongkang, tambak udang sumbang hilangnya sabuk hijau (greenbelt) tanaman pantai.

“Kerusakan vegetasi pantai terjadi dalam kurun waktu belasan tahun tanpa adanya upaya rehabilitasi, faktor alam dan manusia ikut mempercepat abrasi sehingga jarak antara pantai dan daratan semakin dekat,” beber Wayan Sutejo saat ditemui Cendana News, Rabu (9/9/2020).

Wayan Sutejo mengingat jarak antara pantai dan daratan mencapai 20 meter di tahun 1990-an. Namun hingga tahun 2020 atau kurun satu dasarwarsa jarak pantai mencapai 10 meter. Tergerusnya tanah oleh abrasi gelombang menyisakan batuan dan padas.

Komarudin, pegiat lingkungan pemilik usaha pembibitan mengaku telah melakukan pemetaan vegetasi pantai. Pantai Timur, Barat, Selatan Lampung Selatan dan sejumlah pulau memiliki vegetasi pantai yang sebagian rusak. Faktor abrasi berlangsung cukup lama, namun ulah manusia dengan perburuan tanaman sentigi (Pemphis acidula) mempercepat kerusakan.

“Tanaman vegetasi pantai banyak diburu untuk bahan bonsai, sebagian tanaman bakau ditebang untuk reklamasi,” bebernya.

Vegetasi tanaman jenis bakau, ketapang, cemara laut tersisa hanya sebagian. Langkah konservasi menurutnya dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengembalikan tanaman pantai.

“Pemetaan telah dilakukan oleh pecinta alam dengan upaya penanaman kembali sesuai topografi dan jenis tanaman yang cocok,” bebernya.

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Hutan Lindung (BPDASHL) mengaku abrasi biang kerusakan pantai. Namun upaya masyarakat bisa meminimalisir kerusakan pantai dengan pengelolaan berkelanjutan. Jenis tanaman vegetasi pantai yang bernilai ekonomis dan ekologis bisa dikembangkan.

“Warga pesisir bisa menanam kelapa dan tanaman produktif lain namun berfungsi mencegah abrasi,” bebernya.

Upaya rehabilitasi kawasan pesisir diakuinya bisa dikonsep dengan sektor pariwisata. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pantai dari kerusakan. Pengelolaan agroforestri di wilayah pesisir pantai Lamsel jadi alternatif. Penyiapan bibit dilakukan oleh pihaknya agar kerusakan pantai bisa dicegah. Meski faktor alam berpotensi merusak manusia ikut andil menjaganya dengan penanaman pohon pencegah abrasi.

Lihat juga...