FIA Investigasi Kaus Anti Rasis Hamilton di GP Tuscan

Pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, usai balapan F1 Tuscan Grand Prix di Mugello, Scarperia e San Piero, Italia, Minggu (13/9/2020) – Foto Ant

JAKARTA Federasi Otomatif Internasional (FIA), dilaporkan sedang menginvestigasi Lewis Hamilton, sehubungan dengan kaus hitam, anti-rasisme, yang dikenakan pada Grand Prix Tuscan di Sirkuit Mugello, Italia, akhir pekan lalu.

Juara dunia enam kali, yang juga memenangi seri balapan GP Tuscan itu tampak mengenakan kaos bertuliskan tangkap polisi yang membunuh Breonna Taylor, sebelum balapan. Kaus tersebut juga dikenakan saat menaiki podium, hingga ketika melakukan wawancara bersama media.

Kaus tersebut dinilai menjurus ke unsur politik. Sementara FIA melarang semua pebalap mengemukakan hal-hal yang bermuatan politis atau religius, karena dianggap bisa merugikan kepentingan FIA. Seorang juru bicara FIA mengatakan, kasus Hamilton itu sedang ditinjau. Jika terbukti melakukan pelanggaran, Hamilton bisa saja dikenai denda. Hamilton biasanya mengenakan kaus bertuliskan Black Lives Matter, dalam setiap balapan.

Hal itu sebagai bentuk protes terhadap rasisme yang terjadi di AS. FIA tak pernah berkomentar dan mempermasalahkan hal itu. “Butuh waktu lama bagi saya untuk mengenakannya, dan membuat khalayak sadar bahwa ada seseorang terbunuh di jalan, di rumahnya sendiri. Sementara pelakunya masih berkeliaran bebas,” kata Hamilton setelah kemenangannya yang ke-90, Minggu (13/9/2020).

Pada kejuaraan lain, petenis Jepang Naomi Osaka, sebelumnya juga ikut menyuarakan protesnya terhadap ketidakadilan rasial, yang terjadi di Amerika Serikat. Hal itu dolakukan saat tampil di US Open. Ia mengenakan masker wajah bertuliskan Breonna Taylor, pada putaran pertama turnamen Grand Slam itu. “Kita tidak bisa istirahat. Kita harus terus meningkatkan kesadaran itu. Dan Naomi (Osaka) telah melakukannya dengan luar biasa,” kata Hamilton.

Breonna Taylor (26), merupakan seorang perawat Afrika-Amerika, yang ditembak mati oleh polisi di apartemennya di Louisville, Kentucky, pada 13 Maret. Seorang petugas polisi yang terlibat dipecat oleh departemen kepolisian kota itu di Juni. Dua petugas lainnya dimutasi ke pos penugasan administratif. Tidak ada tuntutan pidana yang diajukan terhadap salah satu dari ketiga polisi tersebut. (Ant)

Lihat juga...